Aku belum juga bisa mencintai IKIPku, padahal sudah berbulan-bulan aku belajar disana. Bayangan akan sebuah kampus yang bagus dan keren, seperti yang kulihat di PTN di Jakarta dan Bandung sama sekali tak bisa kujumpai di kampusku ini. Ruangan kuliah yang biasa-biasa aja, lingkungan yang nyaris kumuh, membuat semangat belajarku menguap entah kemana. Hanya cas cis cus dosen-dosennya yang membuat aku bertahan dan masih semangat untuk berangkat kuliah setiap pagi. Yah, aku memilih IKIP sebagai tempatku kuliah bukan karena aku ingin menjadi guru, tetapi lebih karena aku menyukai bahasa Inggrisnya.
               Dari keluarga besarku, hanya ada satu dua yang menjadi guru, itupun saudara jauh. Jadi kuliah di IKIP bukanlah rekomendasi dari orang tuaku. Ketika memilihnya pun tak ada yang tahu. Aku hanya menjawab kotanya bila ditanya memilih apa. Ketakutanku akan kegagalan menembus ujian masuk perguruan tinggi, membuatku memilih jurusan Kependidikan. Aku tidak mau gagal yang kedua kali, setelah di kesempatan pertama aku tak bisa menembus jurusan kedokteran seperti keinginan orang tuaku.
               Ketika akhirnya aku diterima di pilihan pertamaku di IKIP. Tak sedikit pandangan aneh dan heran, koq mau-maunya aku menjadi guru. Apa yang bisa kuharapkan dari profesi itu? Orang tuaku yang kulihat sedikit kecewa, tak bisa berbuat apa-apa. Aku yang memilih dan akan menjalaninya, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada keputusanku. Tak tahukah mereka, bahkan akupun sebetulnya enggan untuk belajar di IKIP. Tapi tentu aku harus konsekuen dengan pilihanku. Akhirnya jadilah aku mahasiswi IKIP, mencoba mencintai dan menikmatinya walaupun sulit sekali.
               Hingga pada suatu kesempatan, aku ditawari teman kostku untuk ikut mengajar di sebuah pabrik besar. Temanku itu mendapat tugas mengajar para karyawan pabrik yang masih buta huruf. Apa serunya mengajar karyawan yang sudah tua seperti itu? Aku yang memang tidak suka mengajar benar-benar terheran-heran, tetapi karena memang sedang tidak ada kegiatan, maka aku mengiyakan saja, hitung-hitung buat nambah pengalamanlah pikirku.
                  Aku sudah terlambat ketika sampai di Pabrik itu. Kelas sudah dimulai, karena takut mengganggu konsentrasi mereka, aku hanya mengintip dari luar. Ternyata pemandangan yang kulihat sangat menyesakkan dadaku. Kulihat temanku sedang membimbing seorang ibu mengeja huruf. Terbata-bata ibu itu mengeja sebuah kata. Susah sekali tampaknya dia menyebut huruf apa yang ada di papan tulis itu. Kupandang ibu itu, umurnya sekitar tiga puluh limaan. Dandanannya khas ibu-ibu karyawan pabrik, sedikit menor dan gaul. Tapi ternyata membaca saja dia tak mampu. Kalau lihat perawakannya, sepertinya beliau sudah berputera. Lalu bagaimana dia mengajari anaknya, jika dia membaca saja tidak bisa? Miris hatiku melihatnya. Ingatanku melayang ketika mengajari adik-adikku membaca. Bapak dan Ibuku juga pasti ikut turun tangan membantu, sehingga ketika masuk SD semua anaknya sudah pandai membaca. Tapi apa yang terjadi dengan ibu-ibu ini? Untung Pabrik ini punya program yang sangat bagus membantu karyawannya supaya melek huruf. Kalau tidak, apakah sampai renta mereka tak akan bisa membaca? Di jaman globalisasi seperti ini? Alangkah malangnya!
                      Hari itu aku mendapat pelajaran berharga, tentang semangat belajar dan pengorbanan. Ketika kemudian temanku mengatakan aku pandai bahasa Inggris, ibu-ibu itu antusias sekali memintaku mengajari mereka, padahal huruf saja mereka belum hafal. Sedangkan dalam bahasa Inggris, tulisan dan pengucapannya saja berbeda. Akhirnya aku ajarkan angka saja, cuma satu sampai sepuluh. Tapi mereka girang bukan kepalang. Ada yang menetes dingin di dadaku setiap melihat binar bahagia di mata mereka yang semangat mendengarkan penjelasanku.
                  Malamnya, aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Rasaku dipenuhi haru biru, pikiranku melayang mengembara memikirkan murid-murid baruku. Sesore itu aku di telfon muridku, hampir semuanya menelepon. Mereka kebanyakan minta aku memberi tambahan jam lagi khusus bahasa Inggris. Bahkan mereka bersedia datang ke tempat kostku. Mereka tidak ingin kalah dengan anak-anak mereka yang sudah mengerti bahasa inggris. Bahkan ada yang anaknya ikut meneleponku, mengatakan terima kasih mamanya bisa berhitung dalam bahasa inggris. Aku tersanjung. Sangat tersanjung. Aku cuma mengajari angka saja, tapi mereka sebegitunya menganggap aku seperti pahlawan yang sangat berjasa. Bagaimana kalau besok aku berhasil mengajari mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris??
Akhirnya kuakui semuanya kepada Allah bahwa ternyata aku mulai jatuh cinta dengan mengajar. Aku berdoa dan memohon kepadaNya, semoga inilah langkah awalku bisa mencintai IKIPku dan sepenuh-penuhnya belajar untuk menjadi guru.
                     Hari-hari kemudian terasa begitu indahnya. Aku mulai mencintai mengajar mereka. Aku selalu tak sabar menanti waktuku bertemu ibu-ibu, menemani mereka terpatah-patah mengeja kata, dengan sabar menanti mereka mengingat hurufnya, tak jarang juga harus merayu agar si ibu berani mengucapkannya walaupun salah. Dan bertepuk tangan ceria bila mereka sanggup membacanya dengan benar. Kalau hari libur, aku mengajak mereka berjalan-jalan, bisa ke mall atau ke pasar. Dan mereka kuberi tugas membaca apa saja yang mereka jumpai di jalan. Kadang kita harus berhenti agak lama di tepi jalan menunggu seorang ibu yang tak juga selesai membaca sebuah spanduk. Atau kadang sambil duduk-duduk di taman kota, terpingkal-pingkal membaca setiap tulisan di mobil yang lewat, mobilnya keburu lari, tapi tulisannya belum kebaca. Juga ketika sedang naik mobil dan menunggu lampu merah, aku menyuruh mereka dengan cepat mencari satu tulisan lalu membacanya keras-keras. Kadang-kadang ketika lampu sudah hijau dan si ibu belum selesai mengeja, kami tertawa tergelak-gelak, belum lagi yang dibaca ternyata bahasa Inggris, sama sekali nggak bisa dipahami hehehe..
                   Sekali waktu kami makan di restaurant, lalu menyuruh mereka memesan dengan membaca daftar menu, yang salah membaca tidak boleh makan. Maka yang berhasil membaca akan sibuk menggoda yang tidak makan. Ujung-ujungnya yang tidak makan akan merayu waitressnya supaya membantu mengeja dan bisa membacanya didepanku, sehingga boleh mendapatkan makanannya hehehe...
             Aku juga selalu membawakan buku-buku bacaan atau novel – novel  buat mereka, untuk meningkatkan minat bacanya. Buku itu ada yang mereka bawa pulang dan meminta anak mereka membacakannya. Ketika tahu ceritanya bagus, mereka menyuruhku membaca di depan kelas agar semua tahu isinya. Akibatnya, jika ternyata ceritanya sad ending, kami bisa menangis sesenggukan bersama-sama.
                    Sayangnya program itu harus dihentikan, selain karena ibu-ibu itu sudah mulai mahir membaca, juga karena perusahaan itu mempunyai program baru yang sasarannya dialihkan. Program itu tidak sampai setahun memang, tapi kemajuan mereka sangat pesat. Aku dan temanku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Semua kenangan itu menjadi memori yang sangat indah dalam perjalanan hidupku.
                     Setelah selesai mengajar disitu, aku mulai melamar untuk mengajar di sekolah-sekolah formal. Aku mencari sekolah yang masuk sore, karena paginya aku harus kuliah. Kembali kutemukan keindahan mengajar di setiap tempatku membagi ilmuku. Aku selalu mencintai murid-muridku dan menemukan semangat keajaiban dimana guru begitu amat sangat mereka butuhkan. Aku memutuskan mengikuti beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) dimana aku akan langsung diangkat menjadi guru PNS begitu lulus kuliah. Gaji guru yang kecil, penempatan yang mungkin bisa di luar pulau Jawa, tak menyurutkan langkahku. Karena aku tahu, mengajar sudah menjadi nafasku.
                      Kini sudah lima belas tahun lebih aku menjadi guru bahasa Inggris. Aku ditempatkan di SMP negeri di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Aku sangat bersyukur atas segala karuniaNya. Karena kini aku bisa menjadi bagian dari mereka yang tak pernah lelah mencerdaskan kehidupan bangsa. I will put my heart on teaching forever!!
Bersama Mahasiswi PPL UNISLA


English Fun

The Champions of English Contest

Team Penari di acara English Day

Team Penari Peraih Juara Tingkat Nasional

Usai Upacara Hardiknas

Guru dan Murid sama-sama narsis

Ande- Ande Jomblo in action

I ALWAYS PUT MY HEART INTO TEACHING

              Aku belum juga bisa mencintai IKIPku, padahal sudah berbulan-bulan aku belajar disana. Bayangan akan sebuah kampus yang bagus dan keren, seperti yang kulihat di PTN di Jakarta dan Bandung sama sekali tak bisa kujumpai di kampusku ini. Ruangan kuliah yang biasa-biasa aja, lingkungan yang nyaris kumuh, membuat semangat belajarku menguap entah kemana. Hanya cas cis cus dosen-dosennya yang membuat aku bertahan dan masih semangat untuk berangkat kuliah setiap pagi. Yah, aku memilih IKIP sebagai tempatku kuliah bukan karena aku ingin menjadi guru, tetapi lebih karena aku menyukai bahasa Inggrisnya.
               Dari keluarga besarku, hanya ada satu dua yang menjadi guru, itupun saudara jauh. Jadi kuliah di IKIP bukanlah rekomendasi dari orang tuaku. Ketika memilihnya pun tak ada yang tahu. Aku hanya menjawab kotanya bila ditanya memilih apa. Ketakutanku akan kegagalan menembus ujian masuk perguruan tinggi, membuatku memilih jurusan Kependidikan. Aku tidak mau gagal yang kedua kali, setelah di kesempatan pertama aku tak bisa menembus jurusan kedokteran seperti keinginan orang tuaku.
               Ketika akhirnya aku diterima di pilihan pertamaku di IKIP. Tak sedikit pandangan aneh dan heran, koq mau-maunya aku menjadi guru. Apa yang bisa kuharapkan dari profesi itu? Orang tuaku yang kulihat sedikit kecewa, tak bisa berbuat apa-apa. Aku yang memilih dan akan menjalaninya, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada keputusanku. Tak tahukah mereka, bahkan akupun sebetulnya enggan untuk belajar di IKIP. Tapi tentu aku harus konsekuen dengan pilihanku. Akhirnya jadilah aku mahasiswi IKIP, mencoba mencintai dan menikmatinya walaupun sulit sekali.
               Hingga pada suatu kesempatan, aku ditawari teman kostku untuk ikut mengajar di sebuah pabrik besar. Temanku itu mendapat tugas mengajar para karyawan pabrik yang masih buta huruf. Apa serunya mengajar karyawan yang sudah tua seperti itu? Aku yang memang tidak suka mengajar benar-benar terheran-heran, tetapi karena memang sedang tidak ada kegiatan, maka aku mengiyakan saja, hitung-hitung buat nambah pengalamanlah pikirku.
                  Aku sudah terlambat ketika sampai di Pabrik itu. Kelas sudah dimulai, karena takut mengganggu konsentrasi mereka, aku hanya mengintip dari luar. Ternyata pemandangan yang kulihat sangat menyesakkan dadaku. Kulihat temanku sedang membimbing seorang ibu mengeja huruf. Terbata-bata ibu itu mengeja sebuah kata. Susah sekali tampaknya dia menyebut huruf apa yang ada di papan tulis itu. Kupandang ibu itu, umurnya sekitar tiga puluh limaan. Dandanannya khas ibu-ibu karyawan pabrik, sedikit menor dan gaul. Tapi ternyata membaca saja dia tak mampu. Kalau lihat perawakannya, sepertinya beliau sudah berputera. Lalu bagaimana dia mengajari anaknya, jika dia membaca saja tidak bisa? Miris hatiku melihatnya. Ingatanku melayang ketika mengajari adik-adikku membaca. Bapak dan Ibuku juga pasti ikut turun tangan membantu, sehingga ketika masuk SD semua anaknya sudah pandai membaca. Tapi apa yang terjadi dengan ibu-ibu ini? Untung Pabrik ini punya program yang sangat bagus membantu karyawannya supaya melek huruf. Kalau tidak, apakah sampai renta mereka tak akan bisa membaca? Di jaman globalisasi seperti ini? Alangkah malangnya!
                      Hari itu aku mendapat pelajaran berharga, tentang semangat belajar dan pengorbanan. Ketika kemudian temanku mengatakan aku pandai bahasa Inggris, ibu-ibu itu antusias sekali memintaku mengajari mereka, padahal huruf saja mereka belum hafal. Sedangkan dalam bahasa Inggris, tulisan dan pengucapannya saja berbeda. Akhirnya aku ajarkan angka saja, cuma satu sampai sepuluh. Tapi mereka girang bukan kepalang. Ada yang menetes dingin di dadaku setiap melihat binar bahagia di mata mereka yang semangat mendengarkan penjelasanku.
                  Malamnya, aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Rasaku dipenuhi haru biru, pikiranku melayang mengembara memikirkan murid-murid baruku. Sesore itu aku di telfon muridku, hampir semuanya menelepon. Mereka kebanyakan minta aku memberi tambahan jam lagi khusus bahasa Inggris. Bahkan mereka bersedia datang ke tempat kostku. Mereka tidak ingin kalah dengan anak-anak mereka yang sudah mengerti bahasa inggris. Bahkan ada yang anaknya ikut meneleponku, mengatakan terima kasih mamanya bisa berhitung dalam bahasa inggris. Aku tersanjung. Sangat tersanjung. Aku cuma mengajari angka saja, tapi mereka sebegitunya menganggap aku seperti pahlawan yang sangat berjasa. Bagaimana kalau besok aku berhasil mengajari mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris??
Akhirnya kuakui semuanya kepada Allah bahwa ternyata aku mulai jatuh cinta dengan mengajar. Aku berdoa dan memohon kepadaNya, semoga inilah langkah awalku bisa mencintai IKIPku dan sepenuh-penuhnya belajar untuk menjadi guru.
                     Hari-hari kemudian terasa begitu indahnya. Aku mulai mencintai mengajar mereka. Aku selalu tak sabar menanti waktuku bertemu ibu-ibu, menemani mereka terpatah-patah mengeja kata, dengan sabar menanti mereka mengingat hurufnya, tak jarang juga harus merayu agar si ibu berani mengucapkannya walaupun salah. Dan bertepuk tangan ceria bila mereka sanggup membacanya dengan benar. Kalau hari libur, aku mengajak mereka berjalan-jalan, bisa ke mall atau ke pasar. Dan mereka kuberi tugas membaca apa saja yang mereka jumpai di jalan. Kadang kita harus berhenti agak lama di tepi jalan menunggu seorang ibu yang tak juga selesai membaca sebuah spanduk. Atau kadang sambil duduk-duduk di taman kota, terpingkal-pingkal membaca setiap tulisan di mobil yang lewat, mobilnya keburu lari, tapi tulisannya belum kebaca. Juga ketika sedang naik mobil dan menunggu lampu merah, aku menyuruh mereka dengan cepat mencari satu tulisan lalu membacanya keras-keras. Kadang-kadang ketika lampu sudah hijau dan si ibu belum selesai mengeja, kami tertawa tergelak-gelak, belum lagi yang dibaca ternyata bahasa Inggris, sama sekali nggak bisa dipahami hehehe..
                   Sekali waktu kami makan di restaurant, lalu menyuruh mereka memesan dengan membaca daftar menu, yang salah membaca tidak boleh makan. Maka yang berhasil membaca akan sibuk menggoda yang tidak makan. Ujung-ujungnya yang tidak makan akan merayu waitressnya supaya membantu mengeja dan bisa membacanya didepanku, sehingga boleh mendapatkan makanannya hehehe...
             Aku juga selalu membawakan buku-buku bacaan atau novel – novel  buat mereka, untuk meningkatkan minat bacanya. Buku itu ada yang mereka bawa pulang dan meminta anak mereka membacakannya. Ketika tahu ceritanya bagus, mereka menyuruhku membaca di depan kelas agar semua tahu isinya. Akibatnya, jika ternyata ceritanya sad ending, kami bisa menangis sesenggukan bersama-sama.
                    Sayangnya program itu harus dihentikan, selain karena ibu-ibu itu sudah mulai mahir membaca, juga karena perusahaan itu mempunyai program baru yang sasarannya dialihkan. Program itu tidak sampai setahun memang, tapi kemajuan mereka sangat pesat. Aku dan temanku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Semua kenangan itu menjadi memori yang sangat indah dalam perjalanan hidupku.
                     Setelah selesai mengajar disitu, aku mulai melamar untuk mengajar di sekolah-sekolah formal. Aku mencari sekolah yang masuk sore, karena paginya aku harus kuliah. Kembali kutemukan keindahan mengajar di setiap tempatku membagi ilmuku. Aku selalu mencintai murid-muridku dan menemukan semangat keajaiban dimana guru begitu amat sangat mereka butuhkan. Aku memutuskan mengikuti beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) dimana aku akan langsung diangkat menjadi guru PNS begitu lulus kuliah. Gaji guru yang kecil, penempatan yang mungkin bisa di luar pulau Jawa, tak menyurutkan langkahku. Karena aku tahu, mengajar sudah menjadi nafasku.
                      Kini sudah lima belas tahun lebih aku menjadi guru bahasa Inggris. Aku ditempatkan di SMP negeri di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Aku sangat bersyukur atas segala karuniaNya. Karena kini aku bisa menjadi bagian dari mereka yang tak pernah lelah mencerdaskan kehidupan bangsa. I will put my heart on teaching forever!!
Bersama Mahasiswi PPL UNISLA


English Fun

The Champions of English Contest

Team Penari di acara English Day

Team Penari Peraih Juara Tingkat Nasional

Usai Upacara Hardiknas

Guru dan Murid sama-sama narsis

Ande- Ande Jomblo in action

10 komentar:

  1. aku ikut terharu membaca kisah yang ini. Sungguh deh. Terlihat sekali rasa jatuh cinta yang tumbuh perlahan dari sesuatu yang tidak disukai sebelumnya, bahkan dari sesuatu yang dianggap remeh tadinya. Bener banget ya Triana, tak kenal maka tak cinta. Jadi, kita harus mengenal lebih dahulu barulah tumbuh rasa cinta kita atasnya. Dan ternyata itulah cara Allah menumbuhka rasa cinta atas mengajar dalam hatimu. Masya Allah, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita ya.
    aku suka cerita ini. Gak usah dinilai untuk komen GA deh, karena pengakuan ini asli keluar dari hatiku. takutnya nanti malah terkontaminasi dengan tujuan lain pengakuanku ini.

    aku mirip denganmu dulu. Sebel banget dengan jurusan yang aku pilih tapi ketika diperkenalkan betama bahagia bisa lahir dari membantu sesama (jurusanku ilmu kesejahteraan sosial, jadi menangani orang2 yang punya masalah sosial), aku jadi cinta dengan jurusan yang aku pilih ketika kuliah dulu. padahal awalnya rada2 minder karena jauh dari apresiasi ekonomi seperti halnya jurusan bergengsi lainnya.
    tos dulu deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo toss mbak Ade hehehe... bener mbak, dulu rasanya kalau nggak kuliah di kedokteran atau di tekhnik haduhhh berasa muka mau ditaruh dimana hahaha..
      Tetapi ketika kemudian kita bisa menikmatinya, Subhanallohh benar-benar indah rasanya, bisa berbagi dengan sesama! Memang kadang-kadang kita tidak tahu rahasia Allah ya Mbak, apa maksud Alllah dibalik semua takdirNya kepada kita hehehe..
      Ya begitulah mbak, sekarang aku bangga menjadi guru dan sangat menikmatinya..

      Hapus
  2. Aku kaguuuuuum dengan Kakak Triana Dewiiii.... aku tau bahwa Kakak adalah guru yang "berbeda." Buktinya, ada muridmu yg member BAW juga, begitu tergila2 kepada Kakak, sampe mau jadi penulis jg dan masuk BAW. Aku yakin bahwa Kakak adalah guru teladan. Walopun interaksi kita bukan sebagai guru dan murid, tp aku merasakan sesuatu yg berbeda dr Kakak, semacam kehangatan, kasih sayang, dan ketulusan. Ini pujian beneran lho, bukan karena Kakak udah pernah beli dua bukuku atau karena ada hadiahnya, wkwkwwkwk...

    Tulisan ini sangat menyentuh, tp sayangnya gak ada paragrafnya, jadi agak pusing bacanya. Maklum, eike udah ga pake kacamata. Teruskan perjuanganmu, Kakak. Anak2 kita membutuhkan guru yg seperti Kakak. Tidak semua ibu bisa menjadi guru bagi anaknya, contohnya aku, banyakan ngetik drpd ngajarin anak :D Jadi, memang dibutuhkan guru2 di luar sana, apalagi guru yang tulus dan berdedikasi. I Luv U, Kakak.... You are the best teacher. Pengorbananmu akan berbuah manis, suatu saat nanti. Seorang guru tetap akan menjadi guru, tetapi murid mereka akan menjadi apa saja: Presiden, Menteri, Profesor, Dokter, dll, semua itu karena GURU.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaa.. kau terlalu memuji-mujiku dikk huhuhu.. sstt tahu nggaakk, aku bikin GA ini khusus di BaW juga karena takut dieliminasi hahahaa (ngaakkuuu dehh)
      Akhirnya aku terinspirasi membuat event ini hehehe..
      oyaa itu sudah kuedit kuberi paragraph hahaha.. maklum dik, masih meraba-raba belajar bikin blog hehehe..
      Wah soal muridku yang satu itu, memang mengherankan, tetapi bukan karena aku teladan sih, lebih karena aku selalu memposisikan diriku sebagai teman mereka dan bukan guru mereka hehehe jadi deh semua merasa akrab denganku hehehe.. kalau udah merasa dekat, kan mereka jadi senang belajar denganku, begitu adikkuu..
      kalau aku jadi guru yang killer, semua takut, nggak mau belajar, ntar kalau ulangan nilainya jelek, wah aku juga yang pusing hahaha..
      Terima kasih adikku.. bener memang, jadi apa mereka nanti, mereka tidak boleh lupa, ada guru mereka yang selalu mensupport dan mendoakan mereka hehehe..

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. walaupun saya baru berkunjung ke blog ini, rasanya seharian puas bisa mengubek-ubek postingan yg ada, meskipun tiap postingan tidak saya komentari namun cukup menginspirasi saya, saya selalu suka membaca blog yang pemiliknya seorang pendidik, bisa mendapatkan ilmu dari setiap postingan yg saya baca... menjadi guru sebenarnya mengasikkkan ketika kita sudah cinta terhadap profesi tersebut, dan mbak triana membuktikannya..mengajar itu berbagi ilmu yg kita punya,tentunya ada kepuasan tersendiri ketika kita sudah berbagi ya mbak..terus smngat :)

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. I will put my heart on teaching forever!! Ah so sweeet bangeeet! Semoga semua guru-guru mengajar dengan setulus hati. Karena ilmu yang disampaikan dari hati, dengan kasih sayang, tentu saja akan masuk ke hati, nggak cuma masuk di otak. Suka foto-foto acara keseniannya. Ada English Day jugaaaa wiiih … kereeen!! Pasti anak-anak suka deh sama pelajaran Bahasa Inggris. Semoga sekolah-sekolah lain juga mengadakan event kesenian untuk menambah semangat belajar dan meningkatkan kreativitas siswa.

    Learn English with fun! Kalau ada pemilihan guru favorit, Mbak pasti jadi pilihan nomor satu deh!

    Terharu pas baca bagian pekerja pabrik buta aksara. Semoga dengan adanya guru-guru seperti Mbak, nggak ada lagi penduduk di Indonesia yang buta aksara.

    Semoga tulisan di blog ini memberi inspirasi bagi para guru khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya. Amiiin.

    BalasHapus
  7. Tulisan ini seperti yang sedang saya rasakan :) ketika saat snmptn undangan saya memilih jurusan komunikasi di Perguruan Tinggi karena saking inginnya menjadi jurnalis, meskipun saya berasal dari jurusan yang berbeda di sma. Ternyata setelah saya mencoba dan hasilnya saya tidak berhasil mendapatkannya.
    Maka dari itu di sbmptn tulis saya mengurungkan niat untuk berpindah jurusan. Dan ketika itu saya memilih jurusan yang mungkin tidak pernah terfikirkan sebelumnya hehe. Tapi saya sudah berusaha dan berserah sama Allah, apapun yang nanti akan saya dapat, dimanapun saya belajar, saya yakin bahwa itu semua adalah anugerah dan amanah yg Allah berikan :)

    Terimakasih mbak Triana Dewi, tulisan ini menjadi pacuan semangat saya kembali. :))

    BalasHapus
  8. tak mengajar secara langsung, mbak Tri sudah menjadi guru dalam hidupku... mengajatiku dengan segenap pesan yg tak tertuliskan tetapi ternahasakan lewat sikap :-)

    BalasHapus