I REALLY WANT TO BE A GOOD WRITER!!



            Aku tidak tahu sejak kapan ingin menjadi penulis. Tetapi sejak kecil, ketika masih SD dan aku suka membaca Lima Sekawan, aku selalu membayangkan menjadi Enid Blyton. Boro-boro membayangkan menjadi George atau Georgina yang tomboy atau menjadi si bungsu Anne, (apalagi jadi Timmy anjingnya gaakkk pernaahh…) aku justru ingin menjadi Enid Blyton yang bisa menciptakan cerita-cerita yang seru, mengambarkan tempat-tempat yang asyik dan makanan yang lezat-lezat. Pun ketika membaca Trio Detektif, aku tidak ingin menjadi Jupiter, Bob maupun Pete, aku justru ingin menjadi Alfred Hitchcock yang bisa menciptakan misteri-misteri yang seru beserta penyelesaian yang menakjubkan, padahal belakangan aku baru tahu ternyata bukan Alfred yang menulis cerita itu huhuhu..
            Dan begitulah, akhirnya aku selalu menghayal menjadi Hilman ketika seri Lupus begitu lucunya, penasaran pengen tahu siapa yang membuat cerita Bobo, Paman Kikuk dan Nirmala juga membayangkan menjadi Zara Zettira, Agatha Christie, Helvy Tiana Rosa, Andrea Hirata dan tentu saja sekarang berkhayal menjadi Tere Liye hahaha.... Aku selalu membayangkan menjadi penulis dan menulis kisah-kisah yang seru. Padahal apakah aku kemudian rajin menulis sebuah cerita? Hahaha ternyata tidak. Aku cuma pengen menjadi penulis tetapi do nothing. Maksudnya aku juga tidak berusaha menulis cerpen, tidak berusaha menghasilkan karya hehehe tetapi aku rajin menulis diary ketika itu, rajin berkirim surat kemana-mana menceritakan semuanya ke dalam surat, menceritakan kepada teman-temanku dan sahabat penaku apa saja yang ingin kuceritakan. Oya Bapakku adalah seorang TNI-AU, jadi aku sering berganti teman dan sahabat karena Bapak kami yang harus berpindah tugas. So, aku sering menulis surat kepada teman-teman lamaku. Itu saja yang rajin kulakukan. Menulis surat juga sebuah aktifitas menulis bukan? Hehehe..
            Ketika SD aku sudah akrab dengan mesin ketik, tetapi aku justru lebih suka mengetik syair lagu-lagu yang ada di Selecta Pop atau Aneka Ria Safari hahaha… aku pernah sekali dua kali ingin menulis cerita dan mengirimkannya ke majalah Bobo, tetapi itu toh pada akhirnya tidak pernah kulakukan. Berbicara soal mesin ketik, aku selalu ingat janji palsuku. Dulu aku menghayal pengen punya mesin ketik, ketika akhirnya punya, aku tetap tidak menulis. Kemudian aku berkhayal ingin punya komputer, pada akhirnya ketika punya, juga cuma kupakai haha hihi saja. Ketika masih punya mesin ketik, aku membayangkan kalau punya komputer pasti lebih menyenangkan dan nyaman buat menulis. Tetapi ketika akhirnya aku punya komputer, aku juga tidak rajin menulis. Kemudian aku membayangkan, seandainya punya laptop pasti lebih menyenangkan lagi buat menulis, aku bisa menulis dimana saja, ternyataaaa ketika aku sudah punya laptop, aku juga tidak menulis dengan teratur huhuhu justru cuma sibuk online sana sini hihihi.. trus kapan aku mau menulis? Sampai akhirnya ada tablet, yang sangat ringan, bener-bener portable, tetapi ternyata aku belum juga rajin menulis huhuhu..
            So saat ini ceritanya aku sedang memaksa diriku menjadi penulis. Aku bergabung dengan banyak group menulis di facebook, agar bisa belajar menulis dari para penulis yang hebat, mempelajari ilmu yang mereka sharing, dan bisa memaksaku mulai menulis. Eh  termasuk salah satu caranya mengaktifkan blog ini hehehe.. biar aku mau menulis. Oya sebetulnya jejaring sosial lah yang membuatku semakin ingin menjadi penulis. Pertama berkenalan dengan Facebook, aku bisa mengetahui banyak penulis terkenal, mengikuti aktifitas menulis mereka dan mengikuti banyak lomba menulis. Terus terang facebook lah yang kemudian mewujudkan mimpiku sehingga aku bisa punya buku yang berisi tulisanku. Sekarang aku baru mempunyai 14 antologi, dan aku bertekad ingin mempunyai buku solo amin amin amin…      
            Jadi, apa kesimpulan tulisan ini, entahlah hahahaa…aku cuma ingin meyakinkan kalian bahwa aku benar-benar ingin menjadi penulis dan menghasilkan banyak karya. Menulislah dan kita akan abadi. Walaupun kita telah tiada, tetapi tulisan kita akan tetap dibaca.

20 komentar:

  1. Emmm… pas aku baca tulisan ini. Mencerminkan aku banget kak. Aku juga selalu berkhayal bisa menjadi seorang penulis dan menghasilkan sebuah karya yang banyak orang suka. Sampai akhirnya aku ikut sebuah nulis buku dan akhirnya salah satu cerpenku diterbitkan, tapi sampai sekarang malah nggak ada kabar apa2  (*sedih ya huhu)
    Dari tulisan ini juga bisa memotivasi kita dan bisa dijadikan sebagai pelajaran, bahwa kalau kita memang benar-benar ingin menjadi seorang penulis atau apa saja itu. Kita jangan hanya mengkhayal saja. Harus berusaha dan terus mencoba. Betul tidak kak?hehe :D
    Karena kalau hanya menghayal saja, itu malah membuang waktu kita. Emmm setelah baca tulisan ini juga aku jadi sadar, kalau emang aku bener-bener mau jadi penulis hebat. Ya, aku harus mulai mencoba, seperti memulai dengan membuat cerpen.
    Sekian^^ semoga tulisan-tulisan kakak yang lainnya bisa membuat banyak orang termotivasi ya kak Sukses terus!^o^

    Twitter: @Santiyapra
    Fb : Santiya Pratiwi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Santiya.. bener dehh, kalau mau jadi penulis ya memang harus rajin menulis yaa hehehe..
      Amin amin terima kasih yaa..

      Hapus
  2. iya percaya mba, percaya hihihi..
    tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai menulis :)

    14 antologi? ckckck keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakaka.. yak jitak kalau dikau gak percaya dik!
      kenapa koq ckckck.. peserta just write2 kan memang keren-keren hahaha..
      belum punya buku solo dik huhuhu.. itu obsesiku, belum puas bagiku berpuluh2 antologi hehehe..

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. " Menulislah dan kita akan abadi. Walaupun kita telah tiada, tetapi tulisan kita akan tetap dibaca"

    Kata-kata Miss Dewi di paragraf akhir ini sangat inspiratif. Saat kita tlah pergi nanti tulisan-tulisan kita akan tetap abadi, memberi makna/pesan pada generasi berikutnya. Alangkah senangnya saat tulisan kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.

    Oh ya Miss Dewi...ini ada beberapa kata-kata motivasi dari para pendahulu kita. Semoga bermanfaat bagi semuanya dan khususnya bagi Wi sendiri yang sedang belajar menulis ini...

    Ali Bin Abi Thalib ra ( Sahabat Rasulullah )

    “Ikatlah ilmu dengan menulis” .

    Imam Al-Ghazali ( Ulama termasyur )

    “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.

    Fatimah Mernissi

    “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa“

    Barbara

    “Menulis merangsang pemikiran, jadi saat anda tidak bisa memikirkan sesuatu untuk di tulis, tetaplah mencoba untuk menulis”.

    Stephen King ( Ahli Fisika )

    “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

    “Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri”

    “Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu kita sendirilah yang menciptakannya”

    “Membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis”

    “Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”

    Pramoedya Ananta Toer ( Novelis Indonesia )

    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

    J.K. Rowling ( Novelis )

    “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”.

    Kuntowijoyo ( Penyair )

    “Syarat untuk menjadi penulis ada tig, yaitu: menulis, menulis, menulis”

    Hernowo ( Penulis )

    “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik


    Oh ya Miss...jika di izinkan, ingin rasanya sharing dengan Miss tentang menulis, bahasa Inggris juga yang lainnya. Sudah dulu ya Miss...Pokokya semangat menulis semangat berkarya ^_^

    Dari Widya Neva
    Fb : Widya Neva
    Twitter : @widyaneva2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahhh Wi, keren sekali komenmu, banyak kutipannyaa..
      Ya itu kalimat penyemangatku hahaha biar mau menulis!
      Bolehh, inbox di fb yuukk.. kita sama2 sharing sama2 belajar..
      ditunggu yaa..

      Hapus
  5. cita-citanya sama mbaaaaaaa ^_^
    Dulu waktu SD malah sering banget kirim puisi ke Majalah Anak-anak. sering dapet sovenir juga d..
    Cuman sekarang suda jarang ngirim-ngirim lagi. Nge-blog cuman buat terapi jiwa aja, hehe..
    Tapi akhir-akhir ini uda mulai rajin nulis lagi di notes_nya BB. Masih terobsesi jadi penulis dan menghasilkan uang dari penulis..

    Semoga cita-cita kita berdua dan temen-temen lain yang lain untuk jadi penulis segera terrealisasikan ya mbak, amiiiin ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnn.. Ailina! Nah, satu lagi, kita harus banyak mengikuti audisi menulis, supaya tahu kemampuan kita..
      Yuk semangat menjadi penulis!

      Hapus
  6. Tulisan ini membuktikan betapa inginnya ibu untuk meraih apa yang menjadi mimpi ibu. Walau memang tidak gigih untuk mengejarnya. Rasa malas yang mungkin ibu rasakan bagi saya itu wajar, dan pasti sangat wajar untuk seorang yang berkeinginan menjadi penulis. Karena menulis itu sulit untuk di jadwalkan, tidak mudah untuk membuat sebuah karya sempurna oleh penulis hebat sekalipun. Dan mungkin ibu seperti demikian karena memang sedang tidak memiliki inspirasi.

    Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menggurui hanya saja satu yang saya garis bawahi, bahwa menulis bukanlah sesuatu yang harus di paksakan. Jika kita memang ingin mengejar menjadi penulis, maka semua akan mengalir tanpa perlu paksaan. Karena menulis itu dari hati :).

    Saya yakin ibu dapat meraih apa yang ibu inginkan, termasuk memiliki buku solo. Dari proses yang telah ibu lewati ini pasti banyak pelajaran berharga yang semakin mematangkan ibu untuk bisa menorehkan nama dalam daftar penulis berbakat Indonesia bahkan dunia. Dan ibu pun tak perlu lagi untuk berkhayal menjadi Zara Zettira, Agatha Christie, Helvy Tiana Rosa, Andrea Hirata atau Tere-Liye sekalipun karena bukan tidak mungkin bila suatu hari nanti nama ibu akan bersanding dengan mereka.

    Semangat untuk semua karya yang akan ibu luncurkan, dan jangan terlalu memaksakan untuk membuat sebuah cerita jika memang sedang tidak ada imaji. Karena sebuah karya akan sempurna jika mengalir dari hati tanpa ada kata memaksa.

    Sekian dari saya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinnnn huhuhuhu.. komenmu benar-benar cetar membahana..
      menulis itu dari hati dan tidak bisa dipaksa.. sipp sipp sipp
      Makasih yaa..

      Hapus
  7. Membaca tulisan mbak yang satu ini seolah menyeretku pada masa dimana aku asyik berkutat dengan buku buku bacaanku. Lima sekawan, Trio Detektif dua judul buku yang mbak sebutkan di atas pernah kulahap, dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam membiarkan mataku menelusuri ceritanya dan seolah ikut berpetualang dalam kisah mereka. Aku ingat aku memang pernah membacanya, tidak hanya satu petualang, dua, tiga, lima entah berapa buku tentang petualangan lima sekawan atau trio detektif dalam memecah teka teki masalah mereka yang berhasil aku khatamkan, aku ingat aku memang pernah membacanya saat itu aku masih duduk di bangku SMP, membacanya pun bukan karena aku memiliki buku tersebut, aku hanya meminjamnya dari perpustakaan sehingga aku terbiasa membaca dengan cepat seakan akan aku diburu waktu dan setiap minggunya aku rutin meminjam buku yang sama dengan episode berbeda. Setahuku aku sudah membaca semua buku lima sekawan dan Trio Detektif yang ada di perpustakaan daerahku, begitupun dengan buku bukunya Agatha Christie, Yah membaca tulisan mbak ini mengingatkan aku pada buku buku yang pernah aku baca dulu, tapi mbak sayangnya aku punya ingatan yang buruk. Aku hanya membaca lalu melupakannya. Payah.

    Lalu kalimat mbak di awal paragraf pertama "aku tidak tahu sejak kapan aku ingin menjadi penulis" mengorek lagi impianku yang sudah lama terpatri kuat dalam genggamanku, dulu waktu kecil aku hobby banget membaca, pokoknya semua buku apalagi buku buku bercerita fiktif ibarat makanan lezat yang selalu ingin kulahap, boleh dibilang aku si kutu buku, aku hanya ingin membaca, membaca dan membaca hingga suatu hari aku bertemu dengan Mas Gagah dalam "Ketika Mas Gagah Pergi" karya mbak Helvi Tiana Rosa, tulisan pertama kali yang begitu menyentuhku, aku berpikir kenapa mbak Helvy bisa membuat tulisan sebagus itu, bagaimana dia bisa mengungkapkannya lewat tulisan, sesuatu yang orang lain tak pernah pikirkan dan mengemasnya dalam bentuk cerita yang membuat aku serasa berada disana diantara Gita dan Mas Gagah, menjadi seorang yang berperan sebagai penonton menyaksikan hingga akhir dimana Mas Gagah akhirnya pergi .Mungkin sejak saat itu aku mulai berpikir, ingin menjadi seperti mbak Helvy Tiana Rosa, aku tak ingin hanya menjadi penonton, aku tak mau selamanya menjadi pembaca, penikmat hasil imaginasi, pikiran dan perasaan mereka orang-orang yang mampu menuangkan ide dan inspirasinya lewat goresan pena, aku pun ingin menjadi seorang penulis. Sama seperti mbak. Kita memiliki impian yang sama. Makanya aku tertarik mengomentari tulisan mbak ini.

    Semakin menyimak kalimat kalimat mbak di tulisan ini, aku malah semakin menemukan diriku, aku yang ingin menjadi penulis, bahkan berani berrmimpi sebagai penulis buku best seller tapi satu karya tulis pun belum kuhasilkan hingga detik ini, aku yang ingin menjadi penulis fiktif tapi jarang menulis, jarangnya karena tulisan atau cerpen yang aku buat gak pernah berhenti di akhir, seperti kata mbak, aku hanya ingin menulis tapi tidak berusaha membuat cerita, tidak berusaha membuat karya... lalu bagaimana mau jadi penulis jika hanya sekedar ingin tanpa action?

    Namun bagiku menulis bagai cahaya yang berpendar dijiwaku, cahaya yang kadang atau sering meredup tapi tak pernah sekalipun cahaya itu padam, meski detik ini aku belum punya karya tulis, aku akan tetap menulis dengan semangat tak menantu, kadang naik turun, aku akan tetap menulis, menulis, dan menulis. yang pastinya hingga akhir aku tak akan berhenti menulis.

    Menulis adalah pekerjaan keabadian, begitu yang aku pahami, dengan menulis berarti kita sedang meninggalkan jejak-jejak kita agar ia tetap terkenang selamanya sekalipun mungkin suatu hari kita sudah tiada. Tanpa tulisan, mungkinkah sejarah hidup kita bisa terkenang? Tulisan yang mempertahankan sejarah itu menjadi abadi, bukan begitu mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi betuull sayangg.. lha koq kita ini sama, no action menghayal only hahaha.. ya mudah2an ke depannya kita menjadi rajin menulis yaa..
      Aminn..

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, sekarang ini banyak media yang begitu mendukung dalam mewujudkan impian seseorang untuk menjadi penulis, atau memungkinkan banyak orang agar bisa membaca tulisan kita, kayak jejaring sosial facebook, dulu sebelum kenal blog aku rajin menulis di catatan facebook , masih seperti mbak juga yaahh.. kemudian aku beralih setelah memiliki blog.. setidaknya sekarang aku bisa menjadi seorang penulis blog itu sudah membuat aku lumyan senang, setidaknya dengan menulis sesuatu aku telah menjadi penulis untuk diriku sendiri dan siapapun mereka yang berkenan membaca tulisanku sekalipun dunia belum mengakui, aku menulis bukan karena aku ingin dunia mengenalku tapi aku menulis karena aku ingin meninggalkan jejak hidupku di dunia ini.

    Oh yah mbak, aku bahkan pernah sempat mengutarakan niatku sama mamaku ingin kuliahnya ambil jurusan sastra saking cintanya aku pada dunia tulis menulis, karena aku mengira kuliah di jurusan sastra bisa membuat aku menjadi penulis, tapi mama menolak padahal aku merasa satu satunya bakat yang aku miliki adalah menulis, aku gak pandai olahraga, gak pinter nyanyi apalagi nari, gak tahu melukis, gak tahu acting hmmm aku merasa aku gak punya bakat apa apa, aku cuma bisa menulis. Itu saja. Sekarang aku hampir menggenggam ijazah guru, insya Allah jadi guru matematika,.. sama lagi yah mbak profesi guru heheh.. dan aku baru sadar bahwa untuk menjadi penulis tidak perduli profesi apapun itu semua orang bisa karena untuk menjadi seorang penulis itu adalah pilihan (begitu kata salah satu pemateri saat aku mengeti TOWR FLP). Guru pun bisa menjadi seorang penulis, kayak mbak kan:)

    Waaahh mbak sudah memiliki 14 antalogi, kereeenn yaahh, semoga buku solonya juga bisa terbit,dan mohon doanya biar aku bisa ikut menjejaki langkah mbak hehehe

    Maaf yah karena komentku di tulisan mbak ini mengaitkan diriku juga.. tapi karena persyaratannya "komen sesuka kalian" jadi nggak papa yah dan maaf juga kalau komentku kepanjangan:)

    Mengutip kata mbak Helvy Tiana Rosa
    MENULIS DAN BERCAHAYALAH
    sekian dan trims^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin panjang makin seruuu hehehe.. iyaa nih, pasti dikau membaca tulisanku, seperti membaca diarymu yaaa hehehe..
      Yup benerlah dik, gak perlu masuk jurusan sastra untuk menjadi penulis.. bahkan nanti dirimu bisa bercerita tentang cinta matematika, jadi buku deh hehehe..
      Wah aku juga suka, menulis dan bercahayalah!
      Okee makasihh yaaa...

      Hapus
  10. Lihat judulnya saya langsung terpukau Mom, hehe saya boleh manggil Ibu Mom kan? Ibu kaya Mama saya banget, hyaa saya jadi kangen Mama... *salah fokus :D*
    Tulisan Mom yang ini mencerminkan aku bangeet.. Entah sejak kapan pengen jadi penulis juga. Pengen melahirkan buku solo, bersanding dengan bangga di estalase toko buku, disamping buku-buku penulis terkenal juga (walau masih belum pantes hehe) tapi pengen bangeeettt :D

    Yang saya sesali dalam hidup saya setelah baca tulisan ini yaitu : menyia-nyiakan waktu, padahal waktu kecil banyak waktu yang berguna untuk menciptakan sebuah karya. Rasanya pengen balik ke masa lalu, merebut khalayan serta ide-ide untuk merajutnya dalam sebuah buku.

    "Menulislah dan kita akan abadi. Walaupun kita telah tiada, tetapi tulisan kita akan tetap dibaca."
    Berarti Penulis hampir sama dengan Ilmuan kan, Mom? Apapun 'karyanya' akan abadi selamanya. Mom, baca kutipan ini membangkitkan semangat 54 saya Mom.

    Tulisan Mom yang seperti ini secara tidak langsung ikut memberi pemikiran pada pembaca bahwa untuk menjadi penulis tidaklah mudah, kalau belum mencoba, kalau masih takut ditolak, kalau masih belum siap dikejar-kejar Deadline hihi

    Mom sudah punya 14 antologi? Wah, keren.. Saya satupun belum hiks T-T
    Lanjutkan perjuangan Mom untuk menjadi Istri serta Ibu yang luarbiasa, guru yang amazing, penulis terkenal dengan karyanya yang 'wah' serta dapet tepukan standing applause dari para pembaca. Oiya Mom, selain jadi guru, penulis, kayanya Mom juga cocok jadi motivator :) Kata-katanya lembut, tapi terselip makna yang dalam, menggugah hati serta pikiran. Serius Mom :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka.. motivator apalageee hahaha ya kan aku guru dik, jadi kebiasaan ngasih nasehat, akhirnya kalau bikin tulisan jadi gitu gitu deh hehehe..Boleh dong semangat 54 nya hahaha..
      oke Makasih ya sayang...

      Hapus
  11. haduh, walaupun beda masa tapi pengalaman Ibu Guru ini akuuu bangeettt 90% (suer deh). Aku juga dulu pas masih sering-sering ke warnet suka baca fanfiction online, nah gara-gara itu jadi timbul ambisi ingin menjadi penulis. Aku dulu rajin mencoba menulis fanfiction juga memakai hp, walaupun hasilnya ancur bin alay abis hahaha.. ehh pas udah dibeliin komputer malah males menulis, kerjaannya online gajelas melulu huhuhu. Akhirnya suatu hari aku ikutan grup kepenulisan karena tujuan yang sama dengan Ibu yaitu: memaksa menulis. Tetapi alih-alih menulis aku malah keasyikan baca-baca diskusinya dan dokumen-dokumen yang ada di dalamnya-_- prakteknya? nggak ada. (eh kok malah kebablasan curhat haha)
    Nah sisanya yang 10& pengalamanku yang berbeda dari tulisan ini adalah BELUM PUNYA KARYA YANG DITERBITKAN baik itu berupa tulisan di majalah, antologi, apalagi solo.
    Aku jadi mendapat inspirasi untuk membuat quotes kesimpulan dari diary sederhana nan bermakna ini:

    1. "if you want to be somebody you dream, bring it!" Maksudnya, buktikanlah (bring it) jika kamu ingin menjadi seseorang yang kamu impikan. Makna dari tulisan ini dapat diperluas bukan hanya diperuntukkan untuk yang ingin menjadi penulis saja, namun juga untuk segala "ingin menjadi" yang lainnya.

    2. "if you never try you'll never success" and "the real failure is you do nothing for your success"
    Dari pengalaman Ibu Triana di bagian "mesin ketik-komputer-laptop-tablet" dapat kita ambil amanat bahwa jika kita tidak pernah mencoba (untuk rajin) menulis maka kita tidak akan bisa menghasilkan sebuah karya (success).

    3. "Delusion a little, work a lot" berdasarkan tulisan ini aku jadi mendapat sebuah motto tambahan untuk hidupku yaitu perkecil khayalan, perbanyak kerja. Kerja untuk apa? Untuk menulis dong. Kan aku ingin menjadi penulis hehe. Tapi quotes ini bersifat umum kok.

    And last, tulisan ini juga mengingatkanku pada pepatah "waktu adalah uang". Karena tulisan ini ngena banget dihatiku karena kecocokannya, maka aku dapat dengan mudah menyadari aku salah dengan suka menyia-nyiakan waktu dan karena itu aku akan mengintrospeksi diri untuk menjadi lebih baik lagi dan tentunya lebih rajin.
    So the point is, im really thankfull to this diary especially Mrs. Triana who wrote it :* karena tulisan ini aku dapat menarik banyak sekali pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihhh alexa, gue pingsan baca komenmu dweehh..
      masak tulisan gue sesederhana itu, kesimpulannya bisa kereenn bangeett waahh pasti dirimu yang memang kerennnn
      Dirimu pinter bahasa inggris juga ternyata yaa hahaha..
      Oke, thanks for amazing summarynya yaa hehehe..
      Yuk selalu semangat menuliss!

      Hapus