Film KMGP "Ketika Mas Gagah Pergi" bercerita tentang sosok Gita Ayu Pratiwi (Aquino Umar) dan kakaknya Gagah Perwira Pratama (Hamas Syahid). Bagi Gita, Mas Gagah adalah segalanya. Mas Gagah akan  selalu siap dan selalu ada untuknya. Sejak kecil mereka sangat akrab dan kompak. Bersyukur sekali Gita mempunyai kakak yang pintar, tampan dan sangat sayang  kepadanya. Film diawali dengan kenangan-kenangan Gita terhadap kebersamaannya dengan sang kakak, yaitu Mas Gagah.



Mas Gagah adalah mahasiswa  teknik di Universtas Indonesia yang menjadi idola di kampusnya,  selain sebagai model dia juga mahasiswa yang cerdas. Ketika berjalan diatas catwalk, keberadaan Mas Gagah selalu membuat histeris para cewek. Demikian juga bila Mas Gagah datang ke sekolah Gita untuk menjemputnya, semua teman-teman Gita akan berebut menyapa bahkan beberapa temannya berani minta nomer handphone dan PINnya. Gita benar-benar bangga terhadap kakaknya. Gita dan Gagah semakin tak bisa dilepaskan, kemana-mana mereka selalu saja berdua.

Gita yang kolokan sangat manja kepada kakaknya. Apalagi setelah ayahnya meninggal, Mas Gagah benar-benar menjadi kakak yang hebat yang bisa menggantikan kedudukan Ayah bagi Gita. Mas Gagah bisa menjadi pelipur lara bagi Gita dan Mamanya. Pun ketika kerinduan datang menerpa, maka Mas Gagah akan datang sebagai penawarnya. Mas Gagah bekerja sekaligus kuliah untuk mencukupi kebutuhan mereka. Mas Gagah benar-benar bisa menggantikan sosok sang Ayah. Gita semakin mencintai kakaknya itu.

Sayangnya semua kebersamaan itu menjadi terasa jauh ketika Mas Gagah harus pergi ke Ternate dalam rangka penelitian skripsinya.  Gita merasa kehilangan Kakaknya yang dulu. Apalagi ketika Mas Gagah kembali dari Ternate, ternyata mas Gagah berbeda jauh sekali, Mas Gagah sudah berubah. Gita kecewa sekali dan merasa kehilangan sosok kakak yang selama ini sangat disayanginya. Perubahan apakah yang terjadi pada Mas Gagah? Oleh-oleh apa yang dibawa oleh Mas Gagah sehingga mengejutkan Gita? Kenapa Gita sangat kecewa? Dan Bagaimana Gita harus melewati hari-harinya tanpa Mas Gagah?

Aku menonton di Royal Plaza Surabaya bersama seluruh keluargaku, aku ingin memberi pemahaman yang baik tentang sebuah film buat keluargaku terutama anak-anakku.

Semuanya dikemas apik dalam Film besutan sutradara Firman Syah dan penulis naskah Fredy Aryanto ini. Banyak kelebihan dalam film ini dibandingkan film Islami lainnya, banyak pesan yang berhasil disampaikan tanpa menggurui sama sekali, yaitu antara lain :
1.Solidaritas tehadap saudara kita di Palestina yang diwujudkan dalam sebuah penampilan teater.
2.Pernikahan islami yang memisahkan antara tamu laki-laki dan perempuan dan tidak mempertontonkan mempelai wanita.
3.Berda'wah bisa dimana saja dan kepada siapa saja, di jalanan, di dalam bis ataupun di markas para preman.
4. Tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan muhrim misalnya dalam bersalaman cukup menelangkupkan tangan di depan dada. Bahkan dalam syuting film ini juga dihindari hal tersebut. Walaupun begitu para pemain tetap kelihatan luwes dan akrab.
Dan masih banyak lagi pesan-pesan moral yang dapat disampaiakan dengan baik.

Jika meihat banyak pesan moral yang disampaikan maka jangan membayangkan film ini melulu serius, humor-humor dan adegan lucu juga banyak ditampilkan sehingga memberi nuansa segar dan cukup membuat penonton terbahak-bahak, yaitu misalnya:
1. Ketika membahas jenggot Hamas maka analaog yang diberikan bisa membuat kita terpingkal
2. Ketika Gita mencari tahu tentang nama Jihad fi sabililah dan keluarlah gambar banyak orang arab
3. Ketika Gita sebal dengan Yudi yang selalu berda'wah di dalam bis justru dia selalu bertemu Yudi, bertemu lagi dan bertemu lagi.

Film ini juga bisa membuat mata kita basah ketika menceritakan kerinduan  Gita dan mamanya terhadap Ayah yang sudah tiada. Bahkan kita pasti akan terlarut ikut bersedih melihat perjuangan Mama yang harus membesarkan dua anak yang beranjak dewasa dengan segala permasalahannya. Kita juga akan terharu melihat Mama yang mulai mendapatkan hidayah dan ingin berjilbab. Bahkan kita akan ikut menangis ketika menyelami perasaan Gita yang begitu terpukul melihat perubahan Mas Gagah, ternyata oleh-oleh yang dibawa Mas Gagah begitu mengejutkannya.

Melihat film ini memang membuat perasaan kita menjadi campur aduk, antara senang, sedih sekaligus terharu,  tetapi film ini betul-betul menjadi sebuah tontonan yang syarat makna yang membangkitkan semangat kita untuk terus menyerukan kebenaran.

Film ini diangkat dari Novelet yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) karya penulis terkenal Indonesia, Helvy Tiana Rosa. Kisah KMGP ini pada awalya adalah sebuah cerpen yang dimuat di majalah Annida pada tahun 1993. Kisah yang sangat menyentuh ini menginspirasi banyak remaja putri untuk menutup auratnya pada saat itu dan banyak membentuk karakter hebat bagi remaja muslim lainnya. Novel dan filmnya sendiri tidak berbeda jauh, dapat diadaptasi dengan sempurna. Walaupun tentu masih ada kekurangannya, seperti adegan ketika Mas Gagah pergi ke Ternate dan langsung dilihatkan kepulangannya tanpa cerita sedikitpun. Bagi yang tidak membaca novelnya tentu akan bertanya-tanya. Tetapi seperti yang kita ketahui bersama, memang sangat sulit untuk memvisualkan sebuah novel beratus halaman ke dalam film yang hanya berdurasi tidak sampai dua jam.

Pemeran utama film KMGP dan Helvy Tiana Rosa (Foto diambil dari IG KMGPthemovie)

Yang membanggakan lagi, film ini merupakan film yang terwujud dari hasil crowdfunding atau dari pengumpulan donasi. Kerja keras yang panjang dan penuh perjuangan dilakukan oleh Helvy Tiana Rosa dan team, demi mendapatkan sebuah film yang sesuai dengan harapan kita bersama. Film ini diproduksi oleh PT Indobroadcast bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Bukan berarti tidak ada Production House yang mau menggarap film ini, justru Helvy menolak sekitar sebelas PH yang ingin memproduksi film ini hanya karena takut idealisme dan pesan yang ada dalam cerita ini tidak tersampaikan dengan baik.

Banyak forum mendukung film ini, salah satunya adalah Forum Lingkar Pena atau FLP yang merupakan komunitas menulis terbesar di tanah air. Dimana-mana diadakan nonton bareng film ini bersama FLP. Film KMGP yang didukung banyak artis nasional seperti Wulan Guritno, Mathias Muchus, Joshua, Irfan Hakim, Shireen Sungkar dan masih banyak lagi akhirnya menjadi film yang fenomenal. Para pemain utamanya seperti Hamas Syahid (Gagah), Aquino Umar (Gita) dan Masaji (Yudi) kini menjadi idola baru. Film ini direkomendasikan menjadi film keluarga dan bisa ditonton oleh semua kalangan.

Diharapkan film ini menjadi tontonan yang bergizi bagi keluarga di Indonesia dan menjadi tuntunan yang baik bagi banyak pemuda pemudi Indonesia yang mulai krisis identitas. Semoga banyak ibroh yang bisa diambil dan semoga perfilman di Indonesia menjadi semakin baik. Jangan lupa untuk melihat kelanjutan KMGP ini yaitu KMGP 2 yang sebentar lagi akan segera tayang. Semoga menginspirasi kita semua. Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya.”





Review Film KMGP "OLEH-OLEH MAS GAGAH YANG MENGEJUTKAN"

Film KMGP "Ketika Mas Gagah Pergi" bercerita tentang sosok Gita Ayu Pratiwi (Aquino Umar) dan kakaknya Gagah Perwira Pratama (Hamas Syahid). Bagi Gita, Mas Gagah adalah segalanya. Mas Gagah akan  selalu siap dan selalu ada untuknya. Sejak kecil mereka sangat akrab dan kompak. Bersyukur sekali Gita mempunyai kakak yang pintar, tampan dan sangat sayang  kepadanya. Film diawali dengan kenangan-kenangan Gita terhadap kebersamaannya dengan sang kakak, yaitu Mas Gagah.



Mas Gagah adalah mahasiswa  teknik di Universtas Indonesia yang menjadi idola di kampusnya,  selain sebagai model dia juga mahasiswa yang cerdas. Ketika berjalan diatas catwalk, keberadaan Mas Gagah selalu membuat histeris para cewek. Demikian juga bila Mas Gagah datang ke sekolah Gita untuk menjemputnya, semua teman-teman Gita akan berebut menyapa bahkan beberapa temannya berani minta nomer handphone dan PINnya. Gita benar-benar bangga terhadap kakaknya. Gita dan Gagah semakin tak bisa dilepaskan, kemana-mana mereka selalu saja berdua.

Gita yang kolokan sangat manja kepada kakaknya. Apalagi setelah ayahnya meninggal, Mas Gagah benar-benar menjadi kakak yang hebat yang bisa menggantikan kedudukan Ayah bagi Gita. Mas Gagah bisa menjadi pelipur lara bagi Gita dan Mamanya. Pun ketika kerinduan datang menerpa, maka Mas Gagah akan datang sebagai penawarnya. Mas Gagah bekerja sekaligus kuliah untuk mencukupi kebutuhan mereka. Mas Gagah benar-benar bisa menggantikan sosok sang Ayah. Gita semakin mencintai kakaknya itu.

Sayangnya semua kebersamaan itu menjadi terasa jauh ketika Mas Gagah harus pergi ke Ternate dalam rangka penelitian skripsinya.  Gita merasa kehilangan Kakaknya yang dulu. Apalagi ketika Mas Gagah kembali dari Ternate, ternyata mas Gagah berbeda jauh sekali, Mas Gagah sudah berubah. Gita kecewa sekali dan merasa kehilangan sosok kakak yang selama ini sangat disayanginya. Perubahan apakah yang terjadi pada Mas Gagah? Oleh-oleh apa yang dibawa oleh Mas Gagah sehingga mengejutkan Gita? Kenapa Gita sangat kecewa? Dan Bagaimana Gita harus melewati hari-harinya tanpa Mas Gagah?

Aku menonton di Royal Plaza Surabaya bersama seluruh keluargaku, aku ingin memberi pemahaman yang baik tentang sebuah film buat keluargaku terutama anak-anakku.

Semuanya dikemas apik dalam Film besutan sutradara Firman Syah dan penulis naskah Fredy Aryanto ini. Banyak kelebihan dalam film ini dibandingkan film Islami lainnya, banyak pesan yang berhasil disampaikan tanpa menggurui sama sekali, yaitu antara lain :
1.Solidaritas tehadap saudara kita di Palestina yang diwujudkan dalam sebuah penampilan teater.
2.Pernikahan islami yang memisahkan antara tamu laki-laki dan perempuan dan tidak mempertontonkan mempelai wanita.
3.Berda'wah bisa dimana saja dan kepada siapa saja, di jalanan, di dalam bis ataupun di markas para preman.
4. Tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan muhrim misalnya dalam bersalaman cukup menelangkupkan tangan di depan dada. Bahkan dalam syuting film ini juga dihindari hal tersebut. Walaupun begitu para pemain tetap kelihatan luwes dan akrab.
Dan masih banyak lagi pesan-pesan moral yang dapat disampaiakan dengan baik.

Jika meihat banyak pesan moral yang disampaikan maka jangan membayangkan film ini melulu serius, humor-humor dan adegan lucu juga banyak ditampilkan sehingga memberi nuansa segar dan cukup membuat penonton terbahak-bahak, yaitu misalnya:
1. Ketika membahas jenggot Hamas maka analaog yang diberikan bisa membuat kita terpingkal
2. Ketika Gita mencari tahu tentang nama Jihad fi sabililah dan keluarlah gambar banyak orang arab
3. Ketika Gita sebal dengan Yudi yang selalu berda'wah di dalam bis justru dia selalu bertemu Yudi, bertemu lagi dan bertemu lagi.

Film ini juga bisa membuat mata kita basah ketika menceritakan kerinduan  Gita dan mamanya terhadap Ayah yang sudah tiada. Bahkan kita pasti akan terlarut ikut bersedih melihat perjuangan Mama yang harus membesarkan dua anak yang beranjak dewasa dengan segala permasalahannya. Kita juga akan terharu melihat Mama yang mulai mendapatkan hidayah dan ingin berjilbab. Bahkan kita akan ikut menangis ketika menyelami perasaan Gita yang begitu terpukul melihat perubahan Mas Gagah, ternyata oleh-oleh yang dibawa Mas Gagah begitu mengejutkannya.

Melihat film ini memang membuat perasaan kita menjadi campur aduk, antara senang, sedih sekaligus terharu,  tetapi film ini betul-betul menjadi sebuah tontonan yang syarat makna yang membangkitkan semangat kita untuk terus menyerukan kebenaran.

Film ini diangkat dari Novelet yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) karya penulis terkenal Indonesia, Helvy Tiana Rosa. Kisah KMGP ini pada awalya adalah sebuah cerpen yang dimuat di majalah Annida pada tahun 1993. Kisah yang sangat menyentuh ini menginspirasi banyak remaja putri untuk menutup auratnya pada saat itu dan banyak membentuk karakter hebat bagi remaja muslim lainnya. Novel dan filmnya sendiri tidak berbeda jauh, dapat diadaptasi dengan sempurna. Walaupun tentu masih ada kekurangannya, seperti adegan ketika Mas Gagah pergi ke Ternate dan langsung dilihatkan kepulangannya tanpa cerita sedikitpun. Bagi yang tidak membaca novelnya tentu akan bertanya-tanya. Tetapi seperti yang kita ketahui bersama, memang sangat sulit untuk memvisualkan sebuah novel beratus halaman ke dalam film yang hanya berdurasi tidak sampai dua jam.

Pemeran utama film KMGP dan Helvy Tiana Rosa (Foto diambil dari IG KMGPthemovie)

Yang membanggakan lagi, film ini merupakan film yang terwujud dari hasil crowdfunding atau dari pengumpulan donasi. Kerja keras yang panjang dan penuh perjuangan dilakukan oleh Helvy Tiana Rosa dan team, demi mendapatkan sebuah film yang sesuai dengan harapan kita bersama. Film ini diproduksi oleh PT Indobroadcast bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Bukan berarti tidak ada Production House yang mau menggarap film ini, justru Helvy menolak sekitar sebelas PH yang ingin memproduksi film ini hanya karena takut idealisme dan pesan yang ada dalam cerita ini tidak tersampaikan dengan baik.

Banyak forum mendukung film ini, salah satunya adalah Forum Lingkar Pena atau FLP yang merupakan komunitas menulis terbesar di tanah air. Dimana-mana diadakan nonton bareng film ini bersama FLP. Film KMGP yang didukung banyak artis nasional seperti Wulan Guritno, Mathias Muchus, Joshua, Irfan Hakim, Shireen Sungkar dan masih banyak lagi akhirnya menjadi film yang fenomenal. Para pemain utamanya seperti Hamas Syahid (Gagah), Aquino Umar (Gita) dan Masaji (Yudi) kini menjadi idola baru. Film ini direkomendasikan menjadi film keluarga dan bisa ditonton oleh semua kalangan.

Diharapkan film ini menjadi tontonan yang bergizi bagi keluarga di Indonesia dan menjadi tuntunan yang baik bagi banyak pemuda pemudi Indonesia yang mulai krisis identitas. Semoga banyak ibroh yang bisa diambil dan semoga perfilman di Indonesia menjadi semakin baik. Jangan lupa untuk melihat kelanjutan KMGP ini yaitu KMGP 2 yang sebentar lagi akan segera tayang. Semoga menginspirasi kita semua. Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya.”





2 komentar:

  1. Waah sepakat filmnya bagus banget pengen nonton lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa dik..bener2 film dakwah yaaa.. aku juga gak sabar lihat lanjutannya..

      Hapus