Senin, 24 Juni 2013

KETIKA MENJADI PEMENANG BUKAN LAGI IMPIAN



Aku seorang guru di desa, yang berjarak tiga belas kilometer dari kota kabupaten. Tidak begitu jauh sebetulnya, bisa ditempuh dengan dua puluh menit naik mobil atau setengah jam dengan sepeda motor. Jalan yang menghubungkan juga sudah lumayan, sebetulnya beraspal tetapi tidak rapi, karena berlubang disana sini.  Yang menjadi kendala adalah angkutannya. Tidak ada angkot atau mobil angkutan umum, yang ada hanya ojek, itupun mahal sekali. Aku juga bukan warga di desa sini, aku cuma pendatang. Aku mengajar di sekolah ini pun karena diangkat menjadi pegawai negeri. Ketika kuliah aku mendapatkan beasiswa ikatan dinas, jadi ketika lulus aku langsung diangkat di sekolah ini.
Pertama, aku datang, aku sempat kaget melihat keadaaan sekolahku. Sekolahku benar –benar kumuh, mencerminkan sosok sekolah di desa ala kadarnya. Aku yang sebelum diangkat sudah mengajar di sebuah sekolah yayasan terkenal di kota besar, yang kelasnya bagus, berlantai keramik dan full AC, benar-benar shock harus mengajar di sekolah di desa seperti ini. Tapi untunglah semangat mengajar dan idealisme untuk mencerdaskan kehidupan bangsa selalu berkobar di dalam dada. Jadi keterbatasan dan apa adanya sekolahku membuatku tetap bersemangat
Ketika tiba saatnya mengajar, kulihat muridku cukup lumayan juga. Mampu menerima penjelasanku dengan baik. Maklum aku guru bahasa Inggris, bukan pelajaran yang mudah buat mereka yang tinggal di desa, bukan? Tetapi ternyata mereka menyimak dengan baik, mengerjakan dengan rajin, walaupun masih banyak salah disana-sini. Entah karena gaya mengajarku yang enak, atau karena aku guru baru yang membuat mereka punya semangat belajar baru, tidak begitu kupikirkan. Yang penting pelajaranku bisa diterima mereka, dan aku bisa menyampaikan ilmuku, itu sudah cukup bagiku.
Seiring jalannya waktu, aku mulai menikmati mengajarku. Rasa jengah karena ruang kelas yang kumuh, banyak lalat karena dekat peternakan ayam, anak-anak yang kucel, fasilitas yang minim, sudah bisa kuatasi. Selalu kutekankan dalam hatiku, inilah ladang jihadku, tempatku menyampaikan ilmu, tempatku bertanggung jawab menjadikan mereka anak-anak bangsa yang berguna bagi agama dan negara. Maka kuhilangkan semua ketidaknyamanan diri, kuganti dengan semangat yang bertubi-tubi.
Seperti juga sekolah lain di kabupaten ini, maka setiap sekolah selalu wajib mengikuti lomba yang diadakan di Kabupaten.  Aku pernah berkesempatan mengantar muridku bertanding lomba. Surat pemberitahuan yang mendadak, jarang melatih lomba pidato bahasa Inggris, tidak begitu mengenal bakat muridku, membuat aku sempat kebingungan untuk mengikuti lomba itu. Tetapi kebanyakan teman-teman guru mengatakan agar aku berangkat saja mengantar muridku. Karena semua itu hanya untuk memenuhi syarat, untuk menggugurkan kewajiban, pokoknya sekolahku bisa mengirimkan peserta, itu sudah cukup. Olala, tentu bisa ditebak dengan mudah, muridku kalah dalam perlombaan itu.
Pengalaman itu membuka wawasanku, aku bertanya kepada guru-guru lain apakah sekolahku pernah memenangkan lomba-lomba yang diadakan di kabupaten. Beberapa mengatakan pernah tapi jarang sekali. Mungkin hanya untuk satu atau dua kali saja. Itupun karena memang anaknya pintar. Tiba-tiba timbul hasrat untuk memajukan sekolahku ini. Tapi tentu aku harus didukung oleh teman-teman yang lain. Aku pun mulai meyusun rencanaku. Aku ingat-ingat, dulu aku juga bersekolah di desa, tetapi sekolahku selalu menang. Karena ada bimbingan khusus bagi anak-anak yang pandai.
 Alhamdulillah beberapa teman sependapat denganku dan Kepala sekolahku yang kebetulan baru diangkat di sekolahku juga sangat mendukung rencana kami. Apalagi ketika itu, tanpa dinyana team tari sekolah yang dikirim mewakili Kabupaten memenangkan festival tari se-Provinsi dan akan dikirim ke Pusat untuk mewakili Provinsi. Itu menjadi letupan kecil pembangkit semangat kami. Nama sekolah kami mulai dikenal orang. Kami berjanji tidak hanya tari, tetapi di semua bidang studi kami akan unjuk gigi. Walaupun kami tinggal di desa, kami tidak mau kalah dengan mereka yang ada di kota.
Satu keuntungan lagi, muridku adalah anak-anak desa, yang notabene masih lugu, belum banyak  godaan seperti anak-anak di kota, yang senang main handphone, game Online, Play Station, mejeng-mejeng di mall, dan lain-lain. Mereka pastinya lebih mudah diarahkan dan dibimbing. Aku tahu muridku hanya kurang motivasi, kurang daya saing. Kalau murid- murid di kota lihatlah, mereka selalu termotivasi untuk ikut les di guru mereka atau di bimbingan belajar ternama di kota-kota. Lain dengan muridku, yang sebagian besar anak buruh tani, boro-boro buat les, buat makan saja susah. Dan lagi belum tentu mereka nanti setelah lulus bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Maka cukuplah bisa naik kelas, tidak perlu muluk-muluk jadi juara kelas apalagi juara di Kabupaten. Untuk ini, aku selalu memberi wawasan dan meningkatkan motivasi mereka.
Setelah optimis dengan murid-muridku, kini tinggal menguatkan tekad dengan teman-temanku guru yang lain. Bersediakah mereka meluangkan waktu, membimbing murid-murid? Memberi les tambahan diluar jam mengajar? Alhamdulillah, walaupun dengan imbalan seadanya, ternyata teman-temanku sangat mendukungku. Aku senang dan bangga. Aku lihat teman-temanku juga lulusan universitas ternama di Negara ini, yang pastinya sangat kompeten di bidangnya masing-masing dan pasti mampu memberikan yang terbaik kepada murid-murid kami.
Keputusan Kepala sekolah untuk mendirikan kelas unggulan juga sangat membantu program ini berjalan lancar. Obsesi menjadikan sekolah kami terkenal dan menjadi sang jawara sudah semakin di depan mata. Dengan adanya kelas unggulan, memudahkan kami membimbing anak-anak yang memang sudah pilihan. Kelas unggulan kami sebut dengan kelas bilingual, karena kami berusaha menyampaikan materi dalam dua bahasa. Sebagai guru bahasa Inggris tentu saja aku seperti punya beban moral. Berani-beraninya mendirikan kelas bilingual, apa kelebihannya? Bagaimana SDMnya? Seperti apa murid-muridnya? Semua itu sangat mengusik hatiku. Karena itu sedikit  demi sedikit kemajuan kearah itu selalu kuupayakan. Dari mulai  memanggil dosen dari luar untuk memberi les bahasa Inggris kepada para guru, mengadakan English day di sekolah, mendatangkan native speaker, mengadakan kegiatan outbond berlabel English Fun, menampilkan drama bahasa Inggris, dan banyak lagi. Demi pertanggungjawaban kepada masyarakat akan nilai lebih kelas bilingualku. Kami juga mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah RSBI, untuk mencuri ilmu tentang program yang mereka terapkan.
Untuk lebih meningkatkan wawasan para guru, aku juga menyebarkan virus membaca di sekolahku. Aku membawa buku-buku bacaan buat mereka, dan mereka bisa meminjamnya gratis.  Kepada murid-muridku di kelas bilingual, berlaku full day school, dimana mereka bersekolah sampai sore. Mereka harus menerima pelajaran tambahan  lebih dibanding kelas yang lain. Untuk pelajaran bahasa Inggris, aku memberikan les tambahan, selain pelajaran di kelas, juga di laboratorium bahasa.  Ada juga kelas persiapan untuk lomba  story telling dan speech contest. Juga mengirim murid-muridku dan Guru-guru bidang studi IPA dan Matematika untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di sebuah tempat kursus terkenal.
Semua persiapan itu juga diiringi dengan upaya mengikuti semua lomba yang diadakan di Kabupaten maupun di Provinsi. Lomba dimana saja kami datangi, menang atau kalah urusan belakang, yang penting kami menguji nyali. Melatih murid-murid agar terbiasa berlomba, menyiapkan mental mereka untuk siap bersaing. 
Tetapi tidak seindah yang dibayangkan, ketika berkali-kali kami gagal, mulai terdengar kasak kusuk umpatan dari teman-teman kami sendiri. Ada yang mengira kami mendirikan sekolah tandingan karena kami nyaris hanya mengurusi kelas bilingual saja, ada yang mulai mengolok-olok, dituduh cuma menghabiskan uang sekolah saja, percuma dibayar buat membina tapi yang dibina tidak pernah menang. Aku cuma tersenyum saja sambil mengelus dada. Sekali waktu, aku klarifikasi, tapi lain waktu aku diamkan saja. Yang berkata begitu pasti tidak pernah tahu susahnya membina anak, apalagi pelajaran bahasa Inggris seperti itu. Membuat anak terampil berpidato, story telling, bermain drama, dalam bahasa Inggris pula. Pasti tidak pernah mereka rasakan, sulitnya membuat naskah pidato, skenario naskah drama, yang semuanya dalam bahasa Inggris, yang sering membuatku lembur tidak tidur. Belum lagi melatih mereka menjadi seperti artis dalam sekejap saja. Maka biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Belum lagi masalah dana, bukankah mengirim lomba-lomba juga perlu dana? Mobilnya? Makannya? Akomodasinya lainnya? Kadang-kadang sampai pontang-panting kami mencari pinjaman uang ketika harus memberangkatkan murid-murid dalam suatu perlombaan yang diadakan diluar kota. Wali murid kami juga kebanyakan orang tidak mampu, yang cuma bisa mendoakan anaknya tanpa bisa memberi kontribusi apa-apa. Tetapi sekali lagi, semua itu kami nikmati saja. Bukankah Allah Maha Tahu apa yang diusahakan oleh hambaNya?

 Semua yang ditanam dengan baik, suatu saat pasti akan menghasilkan buah yang baik pula. Sedikit demi sedikit kami peroleh kemenangan itu, mula-mula ditingkat kecamatan, lalu ditingkat Kabupaten. Dan kini sudah sampai di tingkat Provinsi. Nama sekolah kami mulai dikenal dan diperhitungkan. Setiap ada perlombaan dan kami datang, pasti akan membuat musuh kami gentar. Tidak hanya bahasa Inggris yang bisa menjuarai lomba drama, story telling dan speech contest di tingkat Kabupaten, tetapi pelajaran IPA dan Matematika tidak mau kalah juga. Bahkan ketika ada Olimpiade Science Nasional, perwakilan kabupaten, diborong semua oleh murid-muridku. Tidak hanya itu, kejuaran di bidang tari, bidang olah raga, mulai atletik sampai futsal, pidato Bahasa Jawa, Qiroah bidang agama, Astronomi, IPS,  semua pernah diraih sekolah kami.

Sampai saat ini kami tak pernah berhenti berjuang untuk mempertahankan semua gelar juara itu. Kedepannya kami mempunyai target untuk bisa menjadi Jawara Internasional. Sekarang ini kami sudah mulai mengadakan kerja sama dengan pihak-pihak Internasional untuk mewujudkan impian kami itu. Kendala tentu saja tetap ada. Tetapi kami hadapi dengan bijaksana. Kami cukup puas akhirnya sekolah kami bisa dikenal karena prestasi-prestasinya, walaupun kami hanyalah sekolah di desa. Para orang tua murid juga mulai mempercayai kami, berbondong-bondong menyekolahkan anaknya di sekolah kami, tidak perlu jauh-jauh ke kota lagi. Maka, pergilah ke Lamongan, dan tanyalah tentang SMP Negeri 1 Kembangbahu?  Semua orang pasti tahu dan akan menjawab dengan bangga, disana ada murid-murid hebat yang siap membawa nama baik Lamongan, bahkan Jawa Timur ke tingkat Internasional. Allahumma Amin.


14 komentar:

  1. wiiih... kembang bahu.. satu hal yang kuingat dr nama kecamatan itu.. banyaaak. susah aiiiir ya mbak?.. saya pernah ke desa puter (tempat sodaraku) seminggu disana berdua sm mbak... hiks... panasnya ampun2an dobel panas matahari di jombang. Kalau mandi di telaga.. ijoooo airnya, di sungai coklaaat..

    tp disana kami sempat dj bahan liat-liatan tetangga. ada yg beda dr tampang kami.. cieee.. pernah ada celutukan dr tetangga di dusun puter itu saat kerabat jombang berkunjung.. "dijombang banyak pohon kelapanya ya.. pantesan jd bersih2 gt kulitnya.." qiqiqiq.. semua yg dengar ngakak... emangnya kite mandi pake santen :D

    Mbak triana bukan asli sana tapi bisa bertahan disono dgn kondisi yg dalam ingatanku seperti itu (panas dan suseh air).. hebring banget mbak.. saluuut.. smoga perjuangannya smakin membuahkan banyak hasil ya.. amiiiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakkaaa... betul betul betul mbak Binta huhuhu.. memang susahh air..Tetapi kebetulan aku tinggal dikota kecamatan yang tidak perlu merasakan kekeringan hehehe..
      Iya mbak, gak terasa aku udah hampir 12 tahun tinggal disini hehehe.. puter itu dekaatt sama rumahku, ayo mbak nginep lagi hehehe wong jombang mesti putih2 yaa..
      Amin amin makasihhh yaa mbak doanya!

      Hapus
  2. waktu dikirim kesana itu dirimu sudah menikah atau belum tuh? waaah.... perjuangannya untuk memajukan sekolah luar biasa. btw, itu di desa tapi hebat ya ada kelas bilingualnya... ayo triana terus majukan sekolah. Biar kayak sekolah di denpasar tuh yang setiap tahun selalu menghasilkan murid unggulan... aku selalu terharu jika ada anak dari daerah yang berhasil unggul mengalahkan jakarta. itu hebat namanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu, aku pengantin baru mbak, baru delapan bulan menikah, jadi masih aktif dan semangat banget, belum ribet urusan rumah tangga, mana aku LDR dengan suamiku, jadi waktu luang bener2 aku dedikasikan buat sekolahku hehehe.. alhamdulillah banyak yang mendukung! Iya mbak, itu juga kita nyontek sekolah di kota, studi banding kemana2 jadi bisa membuat kelas bilingual hehehe..Oya kabar terbaru, satu muridku masuk olimpiade sains nasional tahun ini dan akan berangkat ke India mewakili indonesia, sipp kan? alhamdulillah pokoknya hehehe..

      Hapus
  3. Subhanallah..
    Speechless rasanya..
    Perjuanganmu insyaAllah memberatkan timbangan amal baik di yaumil hisab kelak.. Aamiin.
    Moga tetap istiqomah, berjuang tiada lelah, meski Kembang Bahu terkenal sudah, teruslah maju kembangkan sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn.. mbak Linda, terima kasih semangatnya, komennya koq keren2 berirama seperti puisi saja hehehe..

      Hapus
  4. Mbaaaak, sejak kita ketemuan di Graha Pena itu aku udah feeling kalau mbak Triana ini type pejuang sejati. Nah bener kan, pancaran semangatnya terlukis dalam tulisan ini. Sebagian besar dari kita merasa menjadi pemenang, puas ketika telah mengalahkan pihak yang kita anggap sebagai lawan atau kompetitor. Membaca tulisan mbak sedikit banyak mengubah persepsi tentang definisi "pemenang". Yap! meraih cita-cita, berbagi hal istimewa dengan sesama, mewujudkan membahagiakan orang lain adalah bukti nyata sebagai the true winner.
    Barokallahu mbak, atas bertambahnya usia, meraih impian masuk Just Write di Diva Press dan menjadi guru teladan :). Semoga istiqomah dan menginspirasi yang lainnya.
    Btw saya pernah duluuuu nginep di pedalaman Lamongan, saat tante saya masih lajang dan jadi pegawai kecamatan di KedungPring, kalau malam suara jengkerik bersahutan, duluuu ga ada siaran TV entah kini. Sekarang rumah tante di Lamongan (Deket) kota, dekat stadion, perumahan Deket :) mudah-mudahan kelak kita bertemu lagi yaaa ^^

    BalasHapus
  5. Subhanallah, terharu mbak. Saya sampe merinding membacanya. Barakallah, semoga apa yang telah diupayakan berbuah manis di dunia dan akhirat dan semoga impiannya tercapai. Aamiin. Aamiin. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Membaca paragraf awal, saya langsung salut dengan perjuangan Mak Triana Dewi. Dari lingkup yang begitu wah, kemudian mengabdi lingkungan pedesaan. Seberapa kumuh, Mak? Rumah saya juga di desa, malah yang saya lihat sekolah2 di sini jauh lebih bersih dari yang ada di kota. Hawanya juga lumayan asri, tidak langsung terpanggang matahari seperti di kota2 besar. Apa pembuangan sampah yang sembarangan? Nah, Mak kurang menjelaskan bagaimana gambaran ‘kumuh’nya. Agar pembaca jadi bisa membayangkan dan ikut terhanyut dalam syoknya Mak, hehe. Jadi punya banyak teman seperasaan, gitu, walau bukan senasib :p

    Tapi di paragraf selanjutnya sudah dijelaskan bagaimana kumuh tersebut. Jadi, banyak lalat karena dekat peternakan yang dirasa mengganggu ya? Kalau anak-anak yang kucel, mungkin airnya susah, jadi males mandi, hehe.

    Ah, ternyata jadi guru itu harus benar-benar mengenal karakter dan ‘potensi’ para siswa ya? Saya ikut deg-degan waktu Mak bilang ikut membawa siswa mengikuti lomba. Sayang sekali kurang persiapan, kalah deh. Tapi semua memang ada hikmahnya. Dengan demikian, Mak jadi tergugah untuk mengembangkan pendidikan di sekolah. Ah, saya makin salut sama Mak!

    Tulisan Mak yang seperti ini secara tidak langsung ikut memberi pemikiran pada pembaca bahwa memang jasa guru itu luar biasa. Dari anak-anak desa yang sederhana, mereka dididik giat belajar dan nantinya diharapkan bisa mengembangkan desanya. Jadi, gak asal jadi guru yang ngasih materi dengan cuap-cuap di depan kelas. Tapi bagaimana dorongan semangat dari guru membakar semangat siswa sehingga lebih berprestasi lagi.

    Ikut sedih saat membaca bahwa kawan2 Mak grusak-grusuk begitu. Ah, yang menonjol memang selalu jadi sorotan. Bisa baik, bisa buruk. Alhamdulillah ... sekarang sudah tampak hasilnya, prestasi siswa-siswi SMP Negeri 1 Kembangbahu luar biasa! Ini juga berkat jasa Bu Guru yang luar biasa. Padahal kalau ke Lamongan, saya selalu tanay di mana orang jual tahu campur terenak. Sekarang, jadi bisa punya pertanyaan, “Di mana lokasi SMP Negeri 1 Kembangbahu?”

    Lanjutkan perjuangan njenengan, Mak! Saya dukung, saya bantu dengan doa. Semoga suatu hari kita bisa berjumpa, rumah Mama saya di Pasuruan ^^

    BalasHapus
  7. Subhanallah.......

    Membaca tulisan mbak Dewi saya sempat menitikkan air mata. Perjuangan mbak yang menurut saya sungguh luar biasa. Hidup ini tak ubahnya seperti roda sepeda, ia selalu berputar manakala sepeda itu di kayuh. Meski demikian hidup memang harus diperjuangkan. Hanya orang-orang yang kuatlah yang sanggup bertahan menghadapi kenyataan hidup....

    Kadang kita berada di atas, kadang pula kita berada di bawah. Seperti yang mbak Dewi alami. Dulu pernah mengalami kehidupan di kota yang serba glamour, semua fasilitas terpenuhi. Dan ketika harus dihadapkan pada kenyataan harus berpindah ke sebuah desa yang terpencil, mbak Dewi harus mati-matian berjuang demi terlepas dari sulitnya hidup yang seolah mencengkeram.

    Saya salut mbak, cara pendekatan mbak kepada orang-orang baru sungguh luar biasa, hingga mbak bisa membuktikan dari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bahkan apa yang mbak Dewi perjuangkan telah membuahkan hasil kini.

    Selamat berjuang mbak, karena perjuangan itu teramat sangat panjang, dan jangan berhenti sampai disini saja. Saya salut dengan seorang guru yang begitu memperjuangkan nasib sekolah dan murid-muridnya. Dedikasi mbak patut diteladani. Mudah-mudahan sosok mbak Dewi bisa menjadi panutan dan contoh bagi guru-guru lainnya yang kini juga tengah berjuang dalam mengupayakan keberhasilan anak didiknya.

    Mbak Dewi benar-benar "The Amazing Teacher". Salut banget mbak

    Salam kenal dari saya "Yuni Fawwaaz Rudy"

    BalasHapus
  8. mebaca judulnya, membuat isha ingin meneruskan membaca setiap paragraf tulisan ini..

    dulu, bahkan sampai sekarang. saya selalu ingin merasakan kemenangan dan menjadi pemenang. membaca cerita mbak membuat saya sadar bahwa kemenangan bukanlah segala2nya. kemenangan akan mengikuti saat kita sudah berusaha sekuat tenaga, tanpa pamrih, tanpa menyerah.

    isha akan berjuang dan berusaha. kalau biasanya setelah kalah isha berhenti, maka sekarang itu harus menjadi pecut. bahkan saat hina dan cemooh orang lain hadir..

    terima kasih mbak, tulisanmu membawa arti, serta pandangan baru buatku..

    BalasHapus
  9. setuju sama judulnya,bu ^^

    pada dasarnya semua orang adl pemenang :)
    tapi itu semua balik ke diri kita sendiri, tergantung pada kemauan dan kerja keras kita untuk meraih kemenangan :D

    BalasHapus
  10. Wooow..membaca tulisan ini membuat saya terperangah, perjuangan ibu guru dan ketulusannya menjadi guru di daerah terpencil itu luar biasa. Ya, guru itu memang pantas disebut pahlwan tanpa tanda jasa, karena keikhalasan , perjuangan dan semangat tinggi tanpa mengharapkan imbalan semuanya dipersembahkan untuk kemajuan anak didiknya.

    Kisah yang sangat inspiratif mbak, dan saya sangat setuju pemenang bukan lagi impian tapi intinya kita harus berusaha dulu sebelum menyerah dan harus mencobanya.

    Salam kenal mbak Dewi :)

    BalasHapus
  11. salut sama emak yang mau mengajar di tempat yang terpencil, saya sendiri tak akan sanggup melakukannya.

    bahkan menjadi guru saja saya rasanya tak kuat. padahal kuliahnya di FKIP Bahasa Indonesia.

    Semoga kisah ini bisa memberikan pencerahan untuk teman-teman lain yang juja akna menjadi guru di daerah terpencil. Ketika mereka mengeluhkan keadaan mereka, harusnya mereka membaca kisah ini agar mereka bisa bercermin bahwa masih banyak guru-guru lain yang juga mendapatkan ujian tak kalah berat dibandingkan mereka.

    Salam kenal Mak Dew

    BalasHapus