SELAMAT JALAN, OPI!!




          Baru saja aku melipat mukena usai melaksanakan sholat shubuh, ketika handphoneku berdering. Belum sampai aku mengangkatnya. Handphoneku sudah mati. Aku penasaran siapa yang menelpon pagi-pagi begini. Aku lihat chat teratas ada ucapan innalillahi, jantungku terasa berhenti berdetak. Berita itu dari mbak Anik. Ya Allah Opiiiii... mataku basah seketika. Cepat sekali Allah memanggilmu. Ingatanku melayang pada masa-masa SDku dulu...

          "Tooootttt tooootttt toooooott" suara seseorang di belakangku yang sudah sangat kuhapal. Lalu tangannya yang bergaya seolah sedang menyetir motor akan pura-pura menyenggolku sambil dia  menyalip jalanku dengan berlari kecil.

         "Ruuunn ruuuunnn ruuunnn" Aku tak kalah galak berlari menyalipnya lagi. Menyenggolnya dengan kencang agar dia terjatuh. Tetapi itu tak mungkin, yang ada justru aku yang jatuh. Karena badannya yang lebih besar daripada aku. Lalu dia akan tertawa renyah melihatku jatuh sambil masih berkata tot tot tot Gatot tot tot Gatot. Berusaha ditolongnya aku berdiri. Oh, tapi aku tidak mau, aku akan berdiri sendiri, jangan sampai minta tolong padanya yang sudah mengolokku.

           Ya kalian benar Gatot adalah nama bapakku. Sudah tidak aneh bukan nama orang tua memang  sering menjadi olok-olok di masa sekolah kita dulu. Dan Run yang kuterikkan tadi juga nama bapaknya sebagai balasan dia sudah mengolok-olok memakai nama orang tuaku.

           Kali lain Opi, demikian nama panggilan temanku itu akan berteriak memanggilku jerapah. Kenapa Jerapah? Ya karena aku tinggi, mungkin paling tinggi di kelas. kata Heri temanku yang lain, aku sangat tinggi jadi harus mau dipanggil Jerapah. Kupikir Opi cuma ikut-ikut Heri saja sebetulnya. Entahlah, ikut-ikut atau tidak yang jelas aku sebel kalau diolok-olok begitu.

             "Jerapah... hai Jerapaaah.. daun apa yang kamu makan hari ini?..."
             "Jerapah, tinggi sekali dirimu.. apakah setinggi tiang listrik?"
             "Hei, jangan cemberut karena Jerapah selalu tersenyum!"

            Kalau hatiku enakan, aku akan mengejar Opi sampai dapat lalu memukulnya. Tapi kalau aku bad mood, aku justru diam. Kalau sudah bad mood, aku bahkan tidak membalasnya, karena aku dongkol, sebel, benci sehingga marahku sampai ke ubun-ubun. Kalau aku masih bisa mengejar, memukul atau cuma ngomel itu tandanya aku belum marah betulan. Tapi kalau aku diam saja, berarti aku sudah marah besar. Hampir tiap hari Opi menggodaku, shingga membuat aku jengkel. Akibatnya aku sering sekali marah padanya.

            Tetapi bukan Opi namanya kalau tidak bisa mengambil hatiku. Ketika pulang sekolah dia akan berjalan di belakangku, menguntitku sampai rumah sambil meminta maaf. Opi tahu hukumannya kalau sampai aku marah beneran, aku tidak akan meminjaminya buku dan juga tidak akan membolehkan dia ke rumahku untuk belajar kelompok. Maka dengan segala cara dia akan meminta maaf dengan melawak atau dengan menemaniku pulang sampai rumah. Karena memang jalan pulang ke rumah Opi itu melewati rumahku. 

          Aku sendiri bukan anak yang pendendam, marahku selalu cuma sebentar. Kalau Opi sudah melawak, atau bermain tebak-tebakan yang lucu, aku pasti ikut tertawa. Dan kalau sudah tertawa berarti sudah hilang marahku, berarti aku sudah memaafkannya. Mungkin itu yang membuat Opi senang sekali menggangguku, karena dia tahu aku tidak pernah sungguh-sungguh marah.

          Tetapi aku pernah marah sekali padanya, karena seharian dia mengolok-olok aku dan juga mengatakan tamanku jelek. Waktu itu kami ada tugas membuat taman. Opi bukan kelompokku. Tapi karena tamanku terletak di depan kelas persis, maka setiap orang bisa melihat dengan bebas bagaimana kondisi tamanku. Dia pindah pot yang sudah aku atur dengan baik, aku kembalikan lagi potnya eh sama dia dipindah lagi sehingga tidak lurus dan tidak rapi. Aku betulkan yang satu yang lainnya dipindah sama dia, dan begitu seterusnya. Mana injakan-injakan di taman itu membuat batu-batu yang sudah kuatur rapi jadi berantakan. Huft sebal sekali rasanya, seharian itu aku dan Sari temanku sekelompok, cuma capek membetulkan pot dan mengejar-ngejar Opi dan teman-teman laki-laki yang lain yang kompak menggangguku.

             Siangnya aku sepakat sama Sari untuk tidak mengajak Opi belajar kelompok. Aku memajukan belajar kelompokku yang biasanya sehabis maghrib maka kali ini sehabis ashar. Untung hari itu les mengajiku libur. Supaya Opi kecele kalau nanti sehabis maghrib dia ke rumahku. Begitulah rencanaku dan Sari. Oya rumah kami di kompleks Iswahyudi, tidak begitu jauh sebetulnya. apalagi  keluarga kami akrab karena bapakku dan bapaknya pernah satu kantor.

           Pagi itu kakaknya Opi mengabarkan Opi meninggal dunia karena jatuh dari kamar mandi. Kaget sekali aku rasanya karena beberapa hari sebelumnya kita masih bercanda di WAG SD kami. Umur memang tidak ada yang tahu. 

Mungkin Opi memang sering menjengkelkan ketika aku masih SD. Tetapi Opi sebetulnya sangat baik dan perhatian padaku. Ketika SMA kami sama-sama bersekolah di kota, dia selalu menemani aku pulang naik bis. 

Semoga Opi tenang di alam sana. Doaku selalu buatnya. Ammiinn....

Komentar

Postingan Populer