MENDIDIK ANAK ALA ALI BIN ABI THALIB

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan quote yang menyatakan bahwa didiklah anak sesuai zamannya. Nah quote terkenal itu adalah dari Ali bin Abi Thalib, RA. Orang tua zaman now terkadang masih susah menerapkannya. Seringnya kita mendidik anak masih dengan cara yang kuno atau cara yang kolot seperti zaman orang tua mendidik kita dahulu. Contoh gampangnya aja, kita suka sebel kalau melihat anak-anak selalu pegang handphone. Lalu marah-marah tak jelas, melarang-larang akhirnya ujung-ujungya berantem. Hari gini rasanya tidak mungkin ya melarang anak-anak memegamg handphone, apalagi di masa pandemik ini dimana semua tugas dikerjakan lewat handphone. 

Yang  bisa kita lakukan adalah mengajak komunikasi anak dan membuat kesepakatan tentang pemakaian handphone itu sendiri. Apabila sudah ada kesepakatan, insyaAllah semua akan lebih mudah dan lebih teratur. Tidak perlu lagi marah-marah dan uring-uringan sehingga terkesan otoriter dan memaksakan kehendak kita. Sesungguhnya intinya adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik insyaAllah anak-anak akan mengerti dan patuh.


TAHAPAN MENDIDIK ANAK

Ada tiga tahapan mendidik anak menurut Ali bin Abi Thalib yang bisa kita terapkan:

1. Jadikan anakmu seperti Raja

Ketika anak berumur 0 sampai 7 tahun, maka didiklah anak seperti raja. Maksudnya disini anggaplah dia sebagai raja sehingga semua permintaan dan keinginannya usahakan untuk dipenuhi. Tentu permintaan yang positif dan mendidik ya. Manjakanlah dan sayangilah dia sambil tidak lupa mengajarkan dia dasar-dasar akhlaq agama kita.

2. Jadikan anak seperti Tawanan.

Ketika anak berumur 7 sampai 14 tahun maka jadikan dia seperti tawanan. Ajak dia untuk melakukan kewajiban-kewajiban dalam beribadah. Mungkin memang sulit maka paksalah. Kalau perlu hukumlah. Oleh karena itu kita menyebutnya seperti tawanan karena kita memaksa mereka patuh terhadap aturan-aturan. 

3. Jadikan anak seperti sahabat

Ketika anak berumur 15 tahun keatas maka jadikan dia seperti sahabat kita. Berusahalah mengerti apa mau mereka, apa keinginan mereka sambil tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan. Sudah tidak bisa kita memaksakan kehendak kita karena mereka sudah dewasa dan memiliki keinginan sendiri.

Semua yang saya tulis diatas itu adalah teori, kenyataannya saya juga tertatih-tatih menerapkannya. Apalagi sejak suami meninggal saya harus mendidik mereka sendirian. Sungguh sulit bagi saya. Kalau sudah mentok saya biasanya saya hanya bisa berdoa yang kencang semoga Allah senantiasa melindungi anak-anak saya. Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Ammiiinn.. 


Komentar

  1. Menjadikan anak sebagai sahabat, udah masuk di tahap remaja kan ya, Mbak? Orang tua juga harus mau mengembangkan diri supaya bisa berada di posisi sahabat buat si anak

    BalasHapus
  2. Mba... anak saya masuk ke dalam tahapan mendidik bagai tawanan, masha Allaaaahh, sungguh ngos-ngosan hahhaha.
    Antara mau jadi sipir yang bijak sama yang yang tegas rasanya berkecamuk.

    Masalahnya adalah adiknya sedang berada di masa kayak raja, dan dia selalu protes akan hal itu.
    Memang butuh kesabaran ya, untuk mengkomunikasikan bahwa memang harus seperti itu :D

    Semoga saya bisa lebih sabar dan melewati tahapan mendidik bagai tawanan ini, dan menyambut si kakak remaja dengan jadi sahabat baik saya, aamiin :)

    BalasHapus
  3. Paling syusyaahhh fase ABG/remaja ancene Mba
    Kudu banyak sabar, tirakat, doa

    BalasHapus

Posting Komentar

Tengkyu udah blog walking here and nyempetin comment yaa...


Hakuna Matata
@trianadewi_td

Postingan Populer