Sabtu, 20 September 2014

BILA ISTRIMU SEORANG GURU, SIAPKAH ANDA MENGHADAPI INI SEMUA?

Bila istrimu Seorang Guru, siapkah anda menghadapi ini semua?
Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia pendidikan, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia ditinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri. Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk anak orang lain daripada untukmu sebagai suaminya atau anak-anaknya sendiri. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang lain yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya yang selalu mendoakannya.
Tahukah anda, dia akan lebih sering berada di sekolah daripada di rumahnya sendiri. Itu bukan karena dia menyukai sekolah. Rumah baginya tetaplah tempat yang membayang di pelupuk matanya setiap detik dia berada di sekolah, karena sekolah adalah tempat yang penuh kerja keras. Jika anda bukan seorang tenaga pendidik, maka anda tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya bergelut di sana.
Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya. Karena anda mungkin tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, mungkin muridnya banyak yg remidi padahal dia sudah menerangkan berkali-kali, atau kepala sekolahnya baru saja memarahi dan menegurnya, atau ada muridnya yang membangkang sudah berhari-hari membolos, atau ada rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama, cuma bisa mencari muka dan rela menjatuhkan teman sendiri demi 24 jam syarat sertifikasi, atau mungkin nilai PKGnya jelek karena dia tidak mempersiapkan dengan baik dan masih banyak lagi masalah yang mungkin dihadapinya.  Dengarkan ceritanya dengan sabar. Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya, ajaklah untuk berdiskusi, karena bagaimanapun anda lebih dia percaya daripada siapapun di dunia ini.
Bila anda menikahi seorang guru, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan orang, bahwa guru pasti kaya karena sekarang ada tunjangan sertifikasi. Sama seperti yang lain, dia akan merangkak dari bawah, harus mengajar berjam-jam dengan fasilitas seadanya, menghadapi murid yang banyak bengalnya daripada patuhnya, harus mengantarkan muridnya siap Ujian Nasional dan lulus dengan nilai sempurna, aih begitu berat bebannya. Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu.
Tetapi, sesibuk apapun dia mengurus muridnya, keluarga tetaplah menjadi prioritasnya. Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai guru privat buat anak-anaknya. Dia akan sangat kritis terhadap apapun mengenai anak-anaknya yang terkait dengan pendidikan. Apakah anak-anaknya sudah mendapat guru yang tepat, apakah sudah bersekolah di sekolah yang berkualitas hebat, apa anak-anaknya naik kelas dengan nilai sempurna, apakah guru anak-anaknya mumpuni dalam bidangnya?  Mungkin akan terdengar cerewet, tapi itu adalah bentuk perhatiannya terhadap anak-anaknya.
Seorang guru akan sangat perhatian kepada anak orang lain, tetapi kadang ada juga yang lupa terhadap anaknya sendiri. Maka tidak jarang kita sering mendengar ironi tentang seorang guru yang anaknya tidak diterima di universitas negeri manapun, yang anaknya harus tidak naik kelas, padahal dia sudah membuat orang lain bangga karena memiliki anak yang pintar, padahal dia sudah membuat anak orang lain berhasil dalam studynya, padahal dia sudah bekerja mencerdaskan kehidupan bangsa!  Dia akan mendengarkan keluhan anak orang lain tapi terkadang mengabaikan keluhan anaknya sendiri. Siklus makannya akan berantakan, begitu juga dengan waktu tidurnya. Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan dia. Ingatkan untuk makan dan shalatnya, atau jika tidak sama sibuknya, bawakan makanan saat dia harus lembur mengoreksi pekerjaan murid-muridnya atau mempersiapkan media pembelajaran untuk mengajarnya besok atau menganalisa butir soal ulangan hariannya atau mempersiapkan perangkat mengajarnya.  Kehadiranmu akan lebih menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.
Bila istrimu seorang guru, sudah siapkah anda menghadapi ini semua?

Kamis, 03 April 2014

(Wordless Wednesday) My Arul


I would like to share about my son, Arul,  in my first Wordless Wednesday.

He is my fourth child (yang ke empat yang bontot yee..)

He likes reading, oh no, I mean he likes books ( secara dia belom bisa baca gituuu..)
Everytime I go to the bookstore, he is very happy (nggak ke bookstore aja sih, ke food court dia juga suka qiqiqi..}
He will take one book and I have to buy it for him  (kalau yg diambil buku mahal, nangissss gueeee...)




He likes playing game too..




He also  likes travelling

he likes going by train



he also likes going by car



by bike is okee

My Arul is a happy boy everywhere he is...