INDARI MASTUTI, FOUNDER INDISCRIPT CREATIVE YANG OUT OF THE BOX!



Bila ditanya siapakah orang yang berjasa dalam membangkitkan semangat menulisku? Maka salah satunya adalah Teh Indari Mastuti. Ketika itu aku baru saja kenal facebook dan mulai browsing mencari penulis-penulis terkenal yang aku suka. Adalah Ibu-Ibu Doyan Nulis, komunitas menulis pertama yang aku temukan di facebok. IIDN demikian nama komunitas itu yang membuatku sungguh tertarik bergabung dan sangat ingin mengembangkan hobi menulisku.
Kalau sekarang mendengar nama Indari Mastuti, pasti sudah tak asing lagi buat kita ya? Mojang Priangan Penulis 74 buku dan 15 biografi yang sangat terkenal sekaligus founder Indiscript Creative. Kalau dulu? Waktu itu sekitar tahun 2011, aku sama sekali tidak mengenal siapa beliau. Tetapi kenapa aku memutuskan bergabung dengan komunitas yang beliau dirikan? Ya karena aku tertarik dengan konsepnya yang mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk menulis. Tentu hal ini sangat bermanfaat bagi para ibu, yang biasanya hanya di rumah saja maka sekarang mereka bisa berdaya guna dan berhasil guna dengan menulis hehehe aduh kayak apa aja..
Tapi memang begitulah, akhirnya aku memutuskan bergabung dan sangat senang sekali ketika ternyata ada IIDN cabang Jawa Timur. Jarak yang jauh tak menyurutkan langkahku untuk mengikuti setiap kegiatan IIDN yang diadakan di Surabaya. Kebetulan rumahku di Lamongan yang masih perlu waktu dua jam untuk pergi ke Surabaya. Tetapi berbekal tekad yang kuat karena ingin bisa menulis dengan baik, aku buang semua malasku, aku selalu berusaha untuk hadir di setiap kegiatan IIDN Jawa Timur. Ketika itu kebetulan aku mendapat beasiswa  S2 di UNESA Surabaya, maka aksesku menjadi lebih mudah. Beberapa kali aku bolos mengajar dan bolos kuliah hanya karena ingin bisa hadir di acara IIDN, Yaa Allah semangatnya aku waktu itu ya...
Alhamdulillah karena rajin mengikuti kegiatan IIDN aku jadi semangat menulis sehingga lahirlah beberapa buku antologiku. Sayangnya kemudian pada tahun 2015 suamiku terkena serangan stroke yang ketiga dan agak parah sehingga aku sibuk merawatnya, mengantarnya therapy kemana-mana, aku tidak bisa lagi aktif di IIDN. Tetapi aku tetap melanjutkan kebiasaan menulisku. Aku tidak sempat memantau perkembangan IIIDN lagi karena sibuk mengurus suami sehingga akhirnya suamiku meninggal tahun 2017 hiks..
Selain menulis buku aku juga aktif menulis blog dan memutuskan menekuni dunia perbloggingan. Maka ketika beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan mengikuti sesi sharing bersama teh Indari Mastuti, ya Allah hatiku berbunga-bunga, ingatanku melayang ke masa dimana aku berjuang mewujudkan impianku agar aku bisa menulis dengan baik. Awalnya sebetulnya Teh Iin akan mengundang kami para blogger untuk hadir di kantor Indiscript Creative di Bandung, tetapi karena keadaan pandemik seperti ini akhirnya pertemuan diadakan secara online. Betapa senangnya hatiku berkesempatan mengikutinya. Oya acara ini diadakan sekaligus untuk memperingati Ulang tahun Indiscript yang ke-13.
Membaca cerita teh Indari tentang bagaimana jatuh bangunnya beliau mendirikan perusahaan ini sungguh aku jadi merasa kecil, karena pengalamanku tidak ada apa-apanya dibanding beliau. Setelah suamiku meninggal aku pun sempat terpuruk menjalani kehidupan ini, kalau melihat sekarang aku sepertinya sudah bangkit itu sebetulnya hanya kamuflase saja. Aku hanya berusaha bangkit dan tetap tegar demi anak-anak, tetapi mengenai kekuatan ekonomiku sungguh sebetulnya masih sangat rapuh bahkan nyaris jatuh. Tetapi membaca kisah hidup teh Iin aku seperti termotivasi bahwa sesungguhnya peluang itu terbuka lebar untukku. MasyaAllah lagi-lagi teh Indari lah berhasil memotivasiku. Tabarakallah....
Teh Indari yang sudah menulis sejk tahun 2004 dan memutuskan totalitas menjadi penulis pada tahun 2007 benar-benar adalah seorang yang smart dan tangguh bagiku. Bagaimana tidak? Ketika orang-orang belum mengenal apa itu agensi naskah maka teh Iin sudah menggelutinya. Disaat orang-orang lebih  memilih untuk langsung ke penerbit maka teh Indari justru menawarkan sebuah agency naskah yang orang masih sangat awam. Disaat orang lain mengirimkan naskahnya yang lengkap, seorang teh Indari berani hanya mengirimkan judulnya saja untuk disetujui, benar-benar out of the box sekali! Maka tak heran ketika kemudian banyak penulis berdatangan ke Indiscript, karena Teh Iin memang tak pernah berhenti tak pernah putus asa untuk terus menerus membesarkan indiscript ini.
Terkadang untuk menguji keimanan hambaNya Allah sering memberi kita ujian yang tiba-tiba, demikian juga Indiscript ini. Ketika begitu banyak naskah yang minta diselesaikan, karena sebulan bisa sampai 60 sampai 100 naskah, ternyata itu membuat mereka terlena sehingga akhirnya banyak naskah yang terbit dengan tidak bagus, dengan kualitas yang sangat mengecewakan. Tak sedikit pelanggan yang pergi dan Indiscript akhirnya mengalami kebangkrutan. Mereka kehilangan kepercayaan yang ujungnya ditinggalkan oleh para pelanggannya.
Hebatnya teh Indari, beliau tidak sampai terpukul. Karena menulis adalah benar-ebnar passionnya maka beliau mencoba untuk bangkit. Maka ketika banyak orang meninggalkannya, teh Indari mencoba menggali kemampuan dirinya, dan beliau mulai menyadari bahwa dirinya yang hanya ibu rumah tangga biasa saja bisa menulis, tentulah para ibu rumah tangga yang lain juga bisa. Untuk itulah pada tanggal 24 Mei 2010, teh Iin mendirikan komunitas IIDN yaitu mengkoordinir ibu-ibu yang suka menulis. IIDN menjadi obat luka hatinya dan juga menjadi penyemangat untuk bangkit lagi dari keterpurukan. Niat tulusnya membantu ibu-ibu agar bisa menulis dan rasa puasnya karena merasa bisa bermanfaat untuk orang lain membuat teh Indari terus bersemangat membesarkan Indisript ini. Hingga kini sudah lebih dari 4000 judul buku karya ibu-ibu IIDN yang tersebar di banyak peenrbit mayor di seluruh Indonesia.
Banyak pelajaran yang teh Indari ambil selama masa penuh cobaan itu, diantaranya adalah tentang gaya hidup yang salah kaprah. MasyaAllah aku merinding membacanya, karena aku sangat setuju sekali. Ketika suamiku meninggal aku juga oleng karena aku tidak mau menyadari bahwa suamiku sudah tiada, pemasukan berkurang dan aku tentu akan kesulitan keuangan. Akhirnya setelah introspeksi aku mulai menyadari bahwa aku harus mengubah gaya hidupku menyesuaikan kemampuanku. Agak sulit ketika harus memberitahu anak-anak bahwa kini kami tidak bisa semewah dulu lagi, tetapi alhamdulillah anak-anakku bisa mengerti dan itu membuatku bersemangat lagi menata hidup ini. Betul kata Teh Indari gaya hidup sederhana adalah pilihan yang paling tepat.
Yang kemudian menjadi tak terduga adalah ketika Teh Indari ditawari oleh Mizan untuk menulis biografi Pemilik Brownies Amanda. Itu merupakan tantangan tersendiri bagi teh Indari. Tetapi itulah yang kemudian menjadi titik tolak bangkitnya Indiscript, hingga teh Indari berhasil dipercaya untuk menulis buku biografi lagi dan lagi. Keberanian teh Indari untuk menerima tantangan menulis buku biografi sungguh berbuah manis. Data penulis di belakang buku biografi itulah yang kemudian menjadi teh Iin semakin dikenal.
Sejak itulah teh Indari muai membranding dirinya. Apalagi setelah memenangkan beberapa penghargaan seperti Perempuan Inspiratif NOVA 2010, Perempuan Terinspiratif Indonesia Majalah Kartini 2012, Juara 1 Sekar womenpreneur 2012, Superwoman Indonesia 2014 di Singapura dan masih banyak lagi, teh Indari semakin dikenal masyarakat luas. Hal ini justru membuat teh Indari semakin semangat mengembangkan Indiscript apalagi ketika sering belajar bersama mentor-mentor di setiap kompetisi yang diikutinya. Ilmu yang diperolehnya, digunakan teh Indari untuk mengembangkan Indiscript. Itulah mengapa Indiscript berkembang pesat. Diantara hal yang dikembangkan antara lain:

1.      Sekolah Perempuan didirikan tahun 2013.
Sekaligus mendirikan Indiscript Personal Branding yaitu merupakan layanan membranding diri para pengusaha di berbagai media sehingga mampu meningkatkan bisnisnya.

2.       Indscript Direct Selling didirikan tahun 2014

Yaitu  mengeluarkan produk baru penulisan. Biasanya menulis itu untuk buku, tetapi kali ini menulis board. Sebuah alat bantu konsistenti di bidang apa saja, dan bisa disebut  METRIK dan DREAMBOARD yang sangat laku keras.

3.      Indscript Training Center berdiri tahun 2015

Yang diajarkan adalah pengalaman ketika bangkit dari kebangkrutan.
Training pertama yang dibuat adalah kelas Reparasi Bisnis dan sangat laris, bisa mengajar hingga 50an orang secara private dan grup-grup yang juga cukup banyak. Total alumni Indscript Training Center sekitar 10.000an hingga saat ini
Misinya adalah agar ibu-ibu pebisnis bisa menyelesaikan setiap masalah itu dengan sangat baik dan semua bermula dari ilmu, bahwa ilmu akan memudahkan setiap langkah kita.

4.      Komunitas Emak Pintar tahun 2015

Awalnya akan menjadi komunitas yang akan menyatukan antara penulis dan ibu pebisnis. Dan teh Iin akan melebur IIDB dan IIDN,  namun dalam perjalanannya menjadi berjalan sendiri-sendiri dan Emak Pintar pun menjadi komunitas tersendiri dengan kekhasan berbeda diantara komunitas sebelumnya


5.      Indblack berdiri tahun 2017

Bisnis Indblack bergerak di dunia fashion dengan pilihan bidang produsen handsock. Yaitu memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumah untuk menjadi pengrajin handmade desain handsock.
Tetapi sayangnya kemrarin tepatnya 1 April 2020 teh Indari menutup Indblack dan focus Kembali pada Indscript, bidang penulisan yang begitu dicintainya.

6.      Menerbitkan Guidance Book tahun 2018

Bahwa menulis itu tidak selalu harus berbentuk buku, hingga akhirnya menciptakan hasil penulisan dalam banyak versi, mulai dari workbook, agenda, minibook, hingga di tahun 2019 menelurkan rangkaian guidance book. Indscript bisa menjual buku dalam satu hari sekitar 250an buku. Tak jarang dalam 2 hari bisa membukukan penjualan buku hingga 2.000an eksemplar. MasyaAllah.


7.      Menjadi Co Founder Kunikita.

Kunikita adalah bisnis ritel yang menjual berbagai kebutuhan Muslimah. Memiliki lebih dari 4.000 jaringan pemasaran di Indonesia dengan produk unggulannya CIOMY, bakso aci khas Garut yang bisa terjual ribuan pcs per hari.


8.      Program BUKUIN Aja tahun 2019

Yaitu program penerbitan indie yang dilengkapi dengan training sebelum menerbitkan buku. Antrian penerbitan buku indie terus bergerak dan menghebat bahkan akhirnya sampai bisa memiliki percetakan sendiri untuk menyupport penerbitan indie.
Sudah ada 4 angkatan buku antologi dengan grup khusus lainnya dengan total penerbitan buku indie sekitar hampir 40 judul buku!
Di tahun ini juga akhirnya nama Indscript Training Center  berubah menjadi Indscript Businesswomen University sebagai penguat bahwa program kami 3000% untuk perempuan



9.      TAHUN 2020 TERUS BERINOVASI

Pusat pelayanan yang berada pada icon-icon seperti Miss Indscript, Miss Love, Miss Cunik, Miss Writing merupakan inovasi di dunia jasa yang memiliki kekhasan dalam pelayanan dengan menghadirkan icon yang ramah dan sangat friendly. Indscript Writing yang agensi naskah pun makin menguat dengan membuka training khusus di bidang kepenulisan untuk menjebol penerbit mayor, dengan menghadirkan kelas-kelas seperti 7 HARI NULIS BUKU, SEKALI NULIS JEBOL PENERBIT, MENULIS TANPA BAKAT, dll


10.  INDSCRIPT MENUJU 13 TAHUN

Menuju usia 13 tahun dan di usia 13 tahun ini teh Indari merasa bahwa ini bukan lagi bisnis yang main-main, bahwa beliau harus benar-benar fokus sehingga brpikir bahwa Indisript harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat yang seluas-luasnya. Itulah sebabnya mulai tahun ke-10 bisnis berdiri, telah dibangun CSR (Coorporate Social Responsibility) dengan pembebasan riba, pemberian hibah modal usaha, donasi lansia, dan berbagai kegiatan donasi lainnya yang diambil dari 10% dari omzet.

11.  MIMPI SELANJUTNYA
Mimpi yang masih ingin dicapai dengan adanya Indscript dan Kunikita ini adalah  bahwa semakin banyak peluang bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya baik dalam sisi kepenulisan ataupun dalam sisi bisnis. Oleh karena itu
Di tahun 2024 diharapkan mampu memiliki 15.000 jaringan pemasaran yang mereka itu berasal dari para perempuan khususnya ibu rumah tangga dan mereka bisa menghasilkan dan sangat produktif walaupun hanya dari rumah saja.


Masyaallah tabarakallah, speechless saya membaca dan mendengarkan semua penjelasan Teh Indari. Teh Indari mengatakan bahwa beliau  sudah merasakan betapa berinovasi sangat membantu Indscript bangkit dari keterpurkannya, inilah yang membuat beliau tak pernah berhenti berinovasi!
Beliau tak takut jika inovasi gagal…
Beliau tak khawatir jika inovasi tidak berhasil…
Just do it something NEW and OUT OF BOX! Sukses selalu teh Indari, aku sangat berharap suatu saat bisa bertemu beliau dan mendukung program-program beliau. Aamiin.


Komentar

Postingan Populer